Senin, 12 Mei 2014

Kepastian

Aku menyimpannya. Menyimpannya selama 8 bulan lamanya. Menahan setiap sakitku dan tiap luruh tangisku. Tapi mengapa entah semakin sulit saja rasanya. Tiap menatapmu, nafasku selalu seperti tercekat di kerongkongan. Aku selalu menatap indah dirimu. Namun, hanya saja kau selalu meremehkanku. Meremehkan tiap helai perasaanku. Aku juga punya hati. Apakah aku harus memberitahumu segalanya? Segala yang tersirat ,dan segala yang ku bungkam? Jujur saja, aku masih ingin menatapmu berlama-lama. Aku masih ingin melihat lekuk senyum dan wajahmu. Namun semuanya membuat sakit batinku. Apakah aku hanya suatu persinggahan saat kamu tak mempunyai pelarian? Apakah aku hanya salah satu alat yang bisa kamu permainkan? Aku juga punya hati sama seperti dirimu. Memang benar hati manusia berbeda-beda. Namun hanya satu yang kuyakini. Hatiku lebih tulus darimu. Aku lebih setia menunggumu walaupun kamu tak kunjung datang. Kamu bahkan memilih dia. Tapi apakah kamu tulus mencintainya? Ataukah dia akan berakhir seperti aku? Kamu tidak sejahat itu kan? Kamu hanya jahat terhadapku kan? Jangan. Jangan sakiti dia lagi. Cukup aku saja. Jika memang dia adalah pilihan yang kamu inginkan, jaga dia baik-baik. Setialah. Cukup itu yang aku minta dari kamu. Takkan ada permintaan lain.

Kini, aku menyendiri di ruang kosong yang jauh di lubuk hatiku. Mengapa orang yang tulus mencintai justru akan menjadi orang yang di korbankan perasaannya? Kedengarannya itu sangat jahat. Tapi itulah yang terjadi. Lalu? Aku harus berbuat apa? Apakah aku harus datang kepadanya lalu meminta dia membalas perasaanku? Tentu tidak. Aku sudah tahu dari awal konsekuensi dari tiap langkah yang aku jejaki sebagai perjuanganku. Aku tahu akan ada dua jawaban pada akhirnya. Dan sekarang, jawabannya yaitu tidak. Apakah kamu bangga telah menolakku? Apakah dihadapanmu aku sudah tak ada harganya lagi? Kamu salah. Sangat salah. Justru dimataku lah kamu yang sudah tidak ada artinya lagi. Kamu buta akan sebuah kejujuran. Kamu buta dan tidak melihat siapa perempuan yang rela berkorban untukmu. Kamu tahu kan bahwa tak ada ketulusan tanpa pengorbanan? Lalu? Mengapa kamu memilihnya? Apa hanya karna kamu mencintainya? Jadi kamu memilih orang yang kamu cintai daripada orang yang mencintaimu? Nah, kamu memang begitu. Kamu selalu menatap yang itu-itu saja. Seakan tak ada lagi yang dapat kamu pilih menjadi yang terbaik. Dia saja tak memperdulikanmu. Apakah itu sebuah karma untukmu? Aku tak ingin itu. Aku tak meminta agar kamu merasakan apa yang kurasakan. Tapi itu sudah takdir. Karma adalah suatu cara yang akan membuka matamu lebar-lebar. Kamu saja belum menyatakan kepadanya namun dia sudah memberikanmu satu kata. TIDAK. Itu kan yang dia katakan? Bagaimana rasanya? Sakitkan? Kamu saja yg belum berkorban banyak sudah merasakan sakitnya. Bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan delapan bulan itu? Katakan saja bagaimana rasanya. Aku takkan menertawakanmu. Aku yang akan gundah jika kamu juga merasakan hal yang sama. Sakit. Pahit segalanya yang akan kamu rasakan. Kepastian yang kunanti selama ini ternyata hanya berujung pahit. Memang salahku sendiri yang mengharapkan balasan darimu. Kenapa aku yang merasakan mati karna mencintaimu? Mengapa harus aku sendiri? Tak maukah kamu datang kepadaku dan memberikan senyumanmu lagi? Aku hanya butuh itu. Aku sudah katakan takkan meminta apapun lagi darimu. Bahagialah bersama dia. Jangan khawatirkan aku. Aku pasti bisa mengobati lukaku sendiri, dengan atau tanpa kamu disini. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar