Kini, aku menyendiri di ruang kosong yang jauh di lubuk
hatiku. Mengapa orang yang tulus mencintai justru akan menjadi orang yang di
korbankan perasaannya? Kedengarannya itu sangat jahat. Tapi itulah yang
terjadi. Lalu? Aku harus berbuat apa? Apakah aku harus datang kepadanya lalu
meminta dia membalas perasaanku? Tentu tidak. Aku sudah tahu dari awal
konsekuensi dari tiap langkah yang aku jejaki sebagai perjuanganku. Aku tahu
akan ada dua jawaban pada akhirnya. Dan sekarang, jawabannya yaitu tidak.
Apakah kamu bangga telah menolakku? Apakah dihadapanmu aku sudah tak ada
harganya lagi? Kamu salah. Sangat salah. Justru dimataku lah kamu yang sudah
tidak ada artinya lagi. Kamu buta akan sebuah kejujuran. Kamu buta dan tidak
melihat siapa perempuan yang rela berkorban untukmu. Kamu tahu kan bahwa tak
ada ketulusan tanpa pengorbanan? Lalu? Mengapa kamu memilihnya? Apa hanya karna
kamu mencintainya? Jadi kamu memilih orang yang kamu cintai daripada orang yang
mencintaimu? Nah, kamu memang begitu. Kamu selalu menatap yang itu-itu saja.
Seakan tak ada lagi yang dapat kamu pilih menjadi yang terbaik. Dia saja tak
memperdulikanmu. Apakah itu sebuah karma untukmu? Aku tak ingin itu. Aku tak
meminta agar kamu merasakan apa yang kurasakan. Tapi itu sudah takdir. Karma adalah
suatu cara yang akan membuka matamu lebar-lebar. Kamu saja belum menyatakan kepadanya
namun dia sudah memberikanmu satu kata. TIDAK. Itu kan yang dia katakan?
Bagaimana rasanya? Sakitkan? Kamu saja yg belum berkorban banyak sudah
merasakan sakitnya. Bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan delapan bulan itu?
Katakan saja bagaimana rasanya. Aku takkan menertawakanmu. Aku yang akan gundah
jika kamu juga merasakan hal yang sama. Sakit. Pahit segalanya yang akan kamu
rasakan. Kepastian yang kunanti selama ini ternyata hanya berujung pahit. Memang salahku sendiri yang mengharapkan balasan darimu. Kenapa aku yang merasakan mati karna mencintaimu? Mengapa harus aku
sendiri? Tak maukah kamu datang kepadaku dan memberikan senyumanmu lagi? Aku
hanya butuh itu. Aku sudah katakan takkan meminta apapun lagi darimu.
Bahagialah bersama dia. Jangan khawatirkan aku. Aku pasti bisa mengobati lukaku
sendiri, dengan atau tanpa kamu disini.
Senin, 12 Mei 2014
Kepastian
Aku menyimpannya. Menyimpannya selama 8 bulan lamanya.
Menahan setiap sakitku dan tiap luruh tangisku. Tapi mengapa entah semakin
sulit saja rasanya. Tiap menatapmu, nafasku selalu seperti tercekat di kerongkongan.
Aku selalu menatap indah dirimu. Namun, hanya saja kau selalu meremehkanku.
Meremehkan tiap helai perasaanku. Aku juga punya hati. Apakah aku harus
memberitahumu segalanya? Segala yang tersirat ,dan segala yang ku bungkam?
Jujur saja, aku masih ingin menatapmu berlama-lama. Aku masih ingin melihat
lekuk senyum dan wajahmu. Namun semuanya membuat sakit batinku. Apakah aku
hanya suatu persinggahan saat kamu tak mempunyai pelarian? Apakah aku hanya
salah satu alat yang bisa kamu permainkan? Aku juga punya hati sama seperti
dirimu. Memang benar hati manusia berbeda-beda. Namun hanya satu yang kuyakini.
Hatiku lebih tulus darimu. Aku lebih setia menunggumu walaupun kamu tak kunjung
datang. Kamu bahkan memilih dia. Tapi apakah kamu tulus mencintainya? Ataukah
dia akan berakhir seperti aku? Kamu tidak sejahat itu kan? Kamu hanya jahat
terhadapku kan? Jangan. Jangan sakiti dia lagi. Cukup aku saja. Jika memang dia
adalah pilihan yang kamu inginkan, jaga dia baik-baik. Setialah. Cukup itu yang
aku minta dari kamu. Takkan ada permintaan lain.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar