Selasa, 13 Mei 2014

"Aku ( BUKAN ) Pemberi Harapan Palsu"

Sengsaranya jadi aku. Semua orang mengatakan akulah perempuan paling jahat. Mengapa? Oh ternyata mereka mengira bahwa aku tidak memberi kepastian kepada lelaki itu. Sardi terus memintaku menerima ajakannya untuk menikah. Padahal, dari dulu aku memang tidak pernah mencintainya. Dia menuduhku bohong dan mengatakan bahwa tidak ada dua insan yang sangat dekat lalu mereka tidak mempunyai perasaan sama sekali. Aku tidak setuju. Aku buktinya. Tidak pernah jatuh hati kepada Sardi sekalipun. Dan juga, dekat tidak berarti cinta, kan? Kepala Sardi mungkin sudah penuh dengan sarang laba-laba sehingga ia tidak bisa berpikir jernih. Toh, aku dekat sama siapapun. Bos di kantor, mantri desa, pemuda jalang yang sering apel ke rumahku hanya untuk sekedar berbincang-bincang dengan kak Rani juga salah satunya. Lalu? Sardi mengira bahwa aku sengaja memberikannya harapan lebih? Hufft... Itulah yang membuat teman sekantorku (teman sekantornya juga) menodongku dengan berbagai pertanyaan menyelidik. Juga tuduhan yang beragam yang membuat kupingku panas. Dituduh perempuan penggodalah, pemilihlah, hanya mengincar bos-bos kaya, dan sebagainya. Sardi pasti biang keladinya. Dia selalu memberiku bunga di depan teman-teman kantor. Itu yang membuat mereka jadi tak tega jika aku menolak Sardi. Sekarang lagi, mengajakku menikah. Aku sudah pasti menolak. Aku masih ingin berkarir dan melakukan hidup yang santai. Salahkah? Aku pikir caraku sudah benar dalam berteman. Dia saja yang terlalu menggantungkan harapan. Lalu apa peduliku? Dulu, sekali dua kali aku masih peduli dengan perasaannya. Sekarang aku sudah bosan. Sardi tidak berubah dan tetap mengejarku. Emangnya aku maling ayam, apa? Kadang dia datang ke rumah membawakanku cokelat, bunga, dan kado yang hanya kujadikan pajangan di sudut kamar. Aku capek menyuruhnya berhenti mengejarku. Dan lebih capek lagi jika aku mendengar ocehan teman kerjaku yang sibuk menggosipiku. Sudahlah, julukan sebagai perempuan pemberi harapan palsu kini melekat di keningku. Aku tak mau ambil pusing. Selama hal itu tidak benar dan tidak berdampak buruk untuk hidupku, akan ku biarkan berlalu begitu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar