Selasa, 13 Mei 2014

My Roller Coaster

      Ku pandangi benda besar yang bergerak di depanku. Benda tersebut membuat tengkukku semakin merinding. Aneh saja, semakin banyak orang yang ingin mencobanya. Jujur, aku takut naik roller coaster. Permainan ini hanya akan membuat jantungku berlari kencang. Aku menelan ludah sekali lagi. Cowok di sebelahku menggandeng tanganku erat. Seperti tahu bahwa sekarang aku sedang ketakutan.
     “Sa, kalau takut banget ngga usah dipaksain, kok. Aku lihat muka kamu daritadi pucet banget. Aku kasian liatnya. Cowok di sampingku menarik tanganku untuk segera menjauhi roller coaster itu. “Aku tidak kenapa-napa, Zayn. Aku cuma ngeliat ekspresi wajah mereka, teriakan mereka, persis seperti teriakan mama dulu sewaktu dipukuli oleh papaku. Tapi bedanya karena mereka berteriak karena bahagia.” Aku menjawab sendu kemudian duduk di bangku tak jauh dari situ. Zayn mengangguk seakan mengerti. Dia mengikutiku dan duduk di sampingku. Kekasihku ini adalah orang indo. Ayahnya adalah orang Jerman dan ibunya adalah wanita Yogyakarta. Aku memperhatikan wajahnya. Apakah Zayn paham bagaimana rasanya memiliki keluarga broken home? Ku amati wajahnya yang sedang berusaha menyembunyikan kecemasannya. Dia sepertinya mengetahui bahwa aku sedang memperhatikannya. Dia menoleh kemudian mengulas senyum tipis. Aku lega, Zayn tahu sedikit lukaku.
   Kemarin, di sekolah ada seorang siswi baru pindahan dari Belanda. Namanya Alicia Mary. Aku mengetahuinya dari teman kelasku, Rani, yang sangat up to date terhadap hal seperti itu. Ternyata Mary juga sekelas dengan Zayn. Aku merasa tidak enak jika Zayn sekelas dengan gadis itu. Entah mengapa, gadis itu sepertinya baik dan sangat… cantik. Jika dibandingkan denganku aku tidak ada apa-apanya. Parasnya yang cantik berbanding lurus dengan lekuk tubuhnya yang indah. Aku tiba-tiba diterpa kecemasan. Aku takut jika Zayn berpaling dariku. Aku tak mengerti kenapa tiba-tiba saja aku memikirkan hal yang tidak beralasan seperti itu. Aku menggeleng kuat-kuat. Tidak, Zayn adalah milikku.
***
     Praaang!! Terdengar lagi suara guci dibanting dari dalam rumahku. Aku yang tadinya sudah memegang gagang pintu akhirnya terdiam membeku. Haruskah aku masuk? Pikirku. Tidak. Tapi bagaimana dengan mama? Akhirnya setelah menghembuskan nafas berkali-kali untuk menenangkan hatiku yang berkecamuk, aku memutuskan untuk masuk.
   “Kamu jaga saja anakmu yang tidak tahu diri itu! Dasar wanita sialan! Kamu tidak tahu bagaimana capeknya mencari uang, HAH? Jangan menuduh yang macam-macam kamu!” bentak papa terhadap mama. Aku segera menghambur ke pelukan mama. Papa melayangkan tangannya ke udara hendak menampar mama. “Lakuin, pa! Lakukanlah semau papa!” aku berteriak tertahan tak sanggup apa-apa. Mama memelukku erat sambil berurai air mata. “Apa belum puas papa menyakiti hati mama? Kenapa sekarang papa berani sakiti fisik mama? Papa benar-benar bukan papa yang dulu lagi!” bentakku kesal kepada papa. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku sesenggukan melihat wajah mama yang lebam. Aku memegang pipi mama yang sudah berdarah dihantam papa. “Mama baik-baik saja, sayang.” Mama memelukku semakin erat. Kulihat papa yang sedang mondar-mandir di hadapan kami sambil memegangi kepalanya. “Kalian! Kalian memang tidak tahu berterima kasih! Dan kamu Nisa, jaga wanita itu baik-baik. Aku sudah muak melihatnya. Jangan sampai aku menamparnya lagi.” Papa berbalik melangkah keluar sesembari membanting pintu. Aku menenangkan mama yang masih memelukku. “Tenang, Ma. Jangan nangis. Masih ada Nisa yang setia ngejagain mama.” Aku menepis air mata mama dan menyunggingkan senyuman.
     Hari ini, rencananya aku akan pergi ke taman bersama Zayn. Tapi, dia mendadak tidak bisa. Katanya sibuk. Aku kecewa. Sudah dua kalinya dia tak ada di sampingku saat ku membutuhkannya.  Aku merasa sangat sedih saat ini.  Dan untuk menghibur hatiku, aku memutuskan untuk pergi ke toko buku.
     Aku sedang berjalan di rak buku novel-novel teen-lit saat kulihat sepasang sejoli, eh tidak, maksudku sepasang teman sedang bergurau sambil menunjuk buku yang dipegang oleh si lelaki. Zayn nampaknya tidak risih berada di dekat Mary. Dan tiba-tiba Zayn mengacak rambut ikal Mary. Aku segera naik pitam. Zayn sudah membohongiku. Aku tidak menyangka dia tega membohongiku demi bertemu dengan Alice. Hatiku panas dan sebelum aku meledak di depan mereka, aku mengembalikan buku yang kupegang ke rak semula dan berlari keluar. Pulang.
     Orang-orang yang berjalan di sekitarku saling berbisik-bisik. Mungkin karena melihat perempuan tolol sepertiku sedang menangis. Aku sangat ingin menahannya tapi tak bisa. Bergegas kupercepat langkahku. Tanganku mulai mengepal marah. Semua laki-laki di dunia ini sama saja. Mereka pembohong dan brengsek!. Dan karena ketololanku hingga aku jatuh di kubang lumpur yang sudah dibuat sedemikian sempurna oleh Zayn. Aku benar-benar benci dibohongi. Aku juga benci Zayn!
***
     Aku memainkan ponselku selama berjam-jam. Yang tidak kumengerti, mengapa aku melakukannya. Sebuah pesan masuk tertera di layar ponselku. Kulihat nama pengirimnya. MY ZAYN.
Malam sayang. Kamu lg apa? Kok ngga ada kabar?
       Aku memutuskan untuk tidak menggubrisnya. 10 menit kemudian, satu sms masuk lagi.
Nisanya aku, km udah tidur yaa?
       Aku muak dengan kicauannya. Aku membalasnya sinis.
Belum tidur.
       SENT.
       Ponselku berdering lagi.
Balesnya kok gt? Kamu capek say?
     Aku melempar hapeku ke kasur. Saat ini aku sedang tidak ingin berdebat. Aku masih marah. Aku belum bisa memaafkannya.
            ***
     Zayn menghampiriku di kelas. Aku hanya terdiam dan tak memperdulikan kedatangannya. Dia duduk di sampingku. “Hai, Nis.” Katanya. Aku hanya memandangnya sinis kemudian melempar pandangan ke arah jendela. Dia sepertinya menyadari sikapku. “Nis, kamu kenapa, sih? Kok kayaknya lagi kesel gitu?” Zayn mengambil tangan kiriku dan menggenggamnya. Aku menarik tanganku. Dia memegang pundakku dan berusaha membuatku memandangnya. Aku mendesah pelan. “Kita sudah cukup sampai disini.” Aku langsung to the point. “Maksud kamu?” dia bertanya hal-hal yang membuatku geram. “Kamu sudah bohong! PUAS? Aku tidak mau punya pacar seorang pembohong! Kamu memang seperti papa! Semuanya bikin aku marah!’ aku tidak bisa menahan emosiku kini. Zayn memandangku tidak mengerti. Seperti butuh penjelasan, akhirnya aku mengutarakan semuanya. ‘Kamu, kamu tega bohongin aku hanya untuk jalan dengan dia. Kamu tahu, kan kalau aku benci kebohongan. Binatang yang bernama kebohongan itu juga yang menghancurkan keluargaku. Dan sekarang, menghancurkan kita dan semuanya salahmu!” Aku berteriak di depan wajahnya. Air mataku mulai tak terbendung. Aku menahannya sebisa mungkin agar tidak terjatuh. Mungkin saat ini aku sangat kekanak-kanakan. Tapi, aku tidak mau kejadian yang menimpa mama menimpaku juga. Air mataku luruh menetes. “Nisa, ka-kamu nangis?” aku menunduk tak sanggup melihat matanya. “Yang kamu maksud apa? Maksud kamu Mary?” dia bertanya sambil menyapu air mataku. Kutepis tangannya untuk tidak menyentuhku. “Mary itu cuma.. cuma…” Zayn tidak meneruskan kalimatnya. Aku sangat marah. Rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya saat ini. Tidak mungkin Zayn selingkuh dariku. “Cukup! Terserahlah, mau Alice, Mary, atau siapalah namanya, aku tidak perduli. Kamu bahkan tidak bisa menjelaskannya, Zayn. Aku tidak menyangka begitu tega kamu sama aku.” Aku menangis terisak. Aku berlari keluar tetapi kepalaku terasa pusing dan badanku terhuyung akan jatuh. Dan akhirnya aku sudah tidak kuat menopang tubuhku. Aku pingsan.
            ***
  “Nisa, ini aku. Bangunlah.” Aku sayup-sayup mendengar suara Zayn. Aku perlahan-lahan membuka mataku. Kuperhatikan ruangan tempatku berbaring. Aku sedang di rumah sakit. Nampaknya sakitku kambuh lagi. Mataku berhenti pada seorang lelaki yang duduk di sampingku. Aku tidak ingin memandangnya. Nampaknya lukaku masih sakit seperti tadi pagi. “Aku tahu kamu marah, Nisa. Maafin aku, sayang.” Dia memegang tanganku lembut. Aku membiarkan tanganku digenggam olehnya. Aku saat ini sedang tidak ingin berdebat. “Aku tidak ingin membahas itu lagi.” Kataku. “Dan, aku sudah memaafkanmu.” Sambungku sambil memandang ke arah lain. “Jadi, kamu dan aku masih “kita”, kan?” dia bertanya lagi. Raut wajahnya seakan memohon. Cih! Aku tidak bisa luluh karena hal itu. “Tidak bisa. Aku memaafkan tapi bukan untuk kembali lagi.” Aku menjawab sendu dan tegas agar air mataku tidak jatuh lagi. Kulihat raut wajahnya, dia terlihat sangat kecewa. “Nisa, sebenernya aku dan Mary tidak ada hubungan apa-apa. Orangtua kami yang menjodohkan kami berdua. Aku sudah menolaknya tapi tidak dengan Mary. Dia menerimanya. Aku tahu ini sulit bagi kamu, untuk itulah aku tidak mengatakan apa-apa.” Dia menggenggam tanganku semakin erat dan lebih erat. Aku sudah tidak perduli.
    Seminggu setelah kejadian itu, papa pulang lagi ke rumah. Dia melihatku duduk di atas kursi roda sedang menyiram tanaman. Papa berjalan mendekatiku. Dia tiba-tiba membungkuk dan mengecup kepalaku pelan. Aku sangat kaget. Ada apa dengan papa? Kulihat wajahnya yang sangat lesu. Sepertinya dia kurang tidur. “Nisa, bagaimana kabar kamu? Papa sangat rindu padamu, nak.” Bibirnya terlihat bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Tanpa menunggu jawabanku, papa mengambil watering can yang kupegang dan menaruhnya di sudut taman. “Ayo kita masuk.” Papa mendorong kursi rodaku masuk ke rumah.
   “Ma, mama, papa pulang, ma. Papa kembali.” Teriakku lantang dari arah ruang tamu. Kulihat mama berlari tergopoh-gopoh menemui kami. Wajahnya terlihat terlipat. Wajahnya memerah. Sepertinya mama akan meledak memarahi papa. “KAMU! APA YANG KAMU LAKUKAN DISINI? HAH? BUAT APA KAMU KEMBALI LAGI DI RUMAH INI? Aku tidak sudi melihat wajahmu terpampang lagi di setiap sudut rumah kami. Pokoknya, kamu KELUAR SEKARANG!” Bentak Mama geram. Mama belum pernah terlihat semarah ini. Aku hanya terdiam menatap mereka yang saling bersitegang. Kepalaku panas. Ingin rasanya melerai mereka berdua yang saling membentak. Tapi entah kenapa, suaraku seperti tertahan di tenggorokan. Cukup sudah. Aku tidak tahan lagi.
   Aku yang tadinya berfikir bahwa Papa dan Mama akan segera berbaikan pupus sudah. Malah yang terjadi, Mama menggugat cerai papa atas tuduhan perselingkuhan. Kini, keluargaku sudah tidak lengkap. Ingin ikut Mama, bagaimana dengan Papa? Ingin ikut Papa, lalu bagaimana dengan mama? Seandainya mereka tahu, aku yang justru tertekan di situasi seperti sekarang ini.
    Cobaan rasanya datang bertubi-tubi kepadaku. Mungkin Tuhan sedang memberiku cobaan, atau mungkin sebaliknya karena mungkin saja aku pernah melakukan kesalahan. Ya, orang-orang menyebutnya karma. Tapi seingatku, aku tidak pernah menyakiti siapapun seperti ini. Seluka ini. Sesakit ini.
   Setelah putus dari Zayn, dia masih tetap gencar menemuiku. Sms, telfon darinya tak pernah kugubris sekalipun. Aku masih tidak dapat mengontrol emosiku untuk saat ini terhadap kedua orangtuaku dan Zayn. Aku memang merindukannya. Tapi, aku tidak mau menjadi orang bodoh yang menumpuk luka. Sudah cukup aku sakit begini oleh mereka. Aku harus menjadi perempuan dewasa yang pandai dalam mengambil sikap.
***
    Aku masuk ke laboratorium komputer membawa beberapa keyboard yang disuruh oleh Pak Jihan. Kuamati siswa yang duduk di paling pojok ruangan. Kalau tidak salah lihat, dia Kaisar. Kaisar adalah murid yang terkenal bengal seantero sekolah. Sering membolos, berantem dengan siswa dari sekolah sebelah, dan juga suka menindas adik kelas. Tetapi, dibalik sisi negatifnya itu, dia juga termasuk siswa yang pandai di mata pelajaran Fisika dan Biologi.
      Aku berjalan ke arahnya hendak menyimpan keyboard ke dalam lemari yang berada di samping anak itu. Dia mendongakkan kepala sekilas melirikku dan kembali terpaku ke layar monitor. Aku yang penasaran dengan apa yang dikerjakannya, sengaja berlama-lama. Kulirik layar monitor dan seketika itu juga aku terperanjat. Kaget lebih tepatnya. Aku sekarang tahu sisi positif dari Kaisar yang lain.
     Aku melihat dengan jelas hasil puisi dan karangannya yang sangat bijak. Tidak disangka, anak paling nakal, bengal, edan di sekolah bisa membuat puisi sebagus itu. Aku sampai tidak berkedip saking bagusnya. “Hei, Nisa, kan? Ngapain lo disitu? Sengaja, ya?” Kaisar balik badan melihatku dan mendesah pelan. Aku yang sedang jongkok di samping lemari sampai tergagap. Benar-benar memalukan. Aku hanya tersenyum pahit dan langsung berlari meninggalkannya yang terbengong-bengong.
     Semenjak insiden memalukan yang terjadi di laboratorium itu, Kaisar sering menyapaku dengan panggilan “Gadis Pemalu”. Pada awalnya, aku merasa risih dipanggil dengan sebutan itu. Tapi lama-kelamaan, aku mulai terbiasa. Aku dan Kaisar juga menjadi lebih dekat. Kami dekat melalui social media pada awalnya. Dan semakin kesini, aku semakin membiarkan Kaisar masuk di hidupku. Menjadi teman yang selalu ada untukku.
Ponselku bordering. Satu pesan masuk.
Hai, gadis pemalu.
Aku segera tahu siapa pengirimnya.
Aku mengetik balasan untuknya.
Tahu darimana nomor ponselku, cowok kecap?
SENT
Tak perlu menunggu lama, dia hanya membalasnya selama 2 menit.
Dari Rina. Ngga pp kan? J
    Aku tersenyum-senyum sendiri. Anak ini memang pantang menyerah. Setelah menolak memberikan nomor ponselku, dia akhirnya mendapatkan nomorku dari Rina.         
Iya gpp, smpen ajaJ
       Aku merebahkan diri di kasur setelah mengirim pesan untuknya. Ternyata benar. Don’t judge a book by it’s cover. Sampul memang bisa membodohi.
       Sudah dua bulan aku jarang ngobrol dengan mama. Bukan karena mama sibuk, tapi karena semenjak bercerai, mama jadi lebih pendiam. Aku kadang merasa mama bukan mama yang dulu lagi. Mama seperti sibuk dengan dunianya sendiri. Dan juga, sudah dua bulan ini aku terpuruk oleh sikap mama yang seperti mengacuhkanku. Jika semua orang setuju dengan pepatah “Hari ini akan menjadi hari yang lebih baik dari hari kemarin”, tidak denganku. Pepatah itu sangat jauh dari hidupku yang penuh dengan semrawutan kesedihan.
      Hari ini aku tidak sanggup lagi. Semua orang yang kusayangi satu persatu beranjak pergi. Kondisiku juga semakin memburuk. Kanker otak yang kuderita selama kurang lebih satu tahun membuat kekuatan fisikku menurun drastis. Kugoyangkan kakiku tetapi tidak bisa. Seperti mati rasa. Aku takut. Ada apa denganku? Ku gerakkan lagi, masih tidak bisa. Aku mulai menangis. Rasanya aku seperti lumpuh. “Ya Tuhan, apakah aku lumpuh? Tapi mengapa, Tuhan?” aku masih menangis sambil terisak-isak. “Apakah lumpuh seperti ini?” aku masih tidak mempercayainya. Aku memanggil mama. Mamaku sampai di daun pintu dan melihatku menangis dan kacau seperti sekarang. Mama panik. Kukatakan semua padanya. Aku dilarikan ke rumah sakit.
    Tidak enak rasanya memakai kursi roda. Sangat ribet. Harus didorong kesana kemari. Lebih nyaman jika berjalan menggunakan kaki sendiri. Tapi sudah cukuplah aku mengeluh. Tidak boleh menyalahkan keadaan lagi. Kini, kerjaku hanya memandang halaman rumah sakit. Terdengar langkah kaki mendekat. Kupikir itu Kaisar. Ternyata bukan. Zayn.
  “Zayn, tahu darimana aku ada disini?” aku mendongakkan kepala untuk melihatnya. Zayn tersenyum berlutut di depanku. “Bagaimana kabarmu, Nis? Aku sangat kaget mendengar kalau kamu lumpuh. Aku ikut bersedih, Nis. Seandainya aku ada di sampingmu ketika kamu jatuh.” Zayn menunduk. Matanya mulai basah. Kuangkat dagu Zayn agar melihatku. “Zayn, aku sudah sehat kembali. Sekarang, tak ada yang perlu disesali. Kamu ada disini pun aku sudah sangat senang. Hei, berhenti menangis. Lelaki seperti kamu tidak bagus menangis di hadapan orang banyak. Hei, banyak orang yang ngeliatin kamu, lho. Aku sudah baik sekarang, Zayn” aku sudah mulai tertawa. Zayn juga ikut tertawa melihatku.
            ***
  Berita yang sangat mengejutkanku tiba pagi ini. Zayn meninggal. Itu yang kudengar dari Rina. Dia mengalami kecelakaan tadi pagi di dekat sekolah. Dia ditabrak oleh pengendara motor yang ugal-ugalan. Aku menjerit sambil menangis sejadi-jadinya. “Zaaayyynnnn!!!!!!!!!!! Zaa..yyynnn!!!” Aku sudah tak kuasa membendung air mataku. Zayn kini sudah pergi jauh. Sangat sulit untuk mengihklaskannya. “Tuhan, apalagi sekarang? Aku tidak kuat, Tuhan. Sungguh, aku tidak kuat.” Aku menangis meronta-ronta hingga terjatuh di atas kursi roda. Kaisar yang melihatku membantu agar aku bisa duduk kembali ke kursi roda. Dia menenangkan perasaanku yang sangat kacau balau. “Aku tahu susah untuk kamu ngeikhlasin dia. Tapi, ini sudah takdir, Nis. Ini sudah ketetapan yang Maha Kuasa. Kita hanya bisa nrimo dan ikhlas nerimanya.” Aku membiarkan Kaisar di sampingku. Setidaknya, aku tidak sendirian menghadapi ini. Aku sudah tidak tahan lagi. Mataku berkunang-kunang. Aku ambruk.
   Tiga tahun aku bersedih karena kepergian Zayn. Dan tiga tahun itu juga Kaisar yang selalu menemaniku. Kini kami berdua kuliah di universitas yang sama. Kaisar juga menjadi penjagaku yang paling menyayangiku. Hingga pada suatu hari, Kaisar mengutarakan maksud hatinya kepadaku.
   “Nisa, kamu masih sayang dan cinta sama Zayn?”
   Itu pertanyaan yang tak kuduga. Aku hanya menelan ludah. Tak sanggup harus menjawab apa. Tanpa kujawab pun, Kaisar pasti tahu jawabanku.
  “Bilang saja, Nisa. Jujurlah. Aku ingin mendengarnya dari mulutmu sendiri.” Raut wajah Kaisar terlihat murung. Aku tidak tega melihatnya.
    “Aku rindu Zayn. Aku masih sayang dia.” Aku menjawab pelan-pelan.
“Nis, sejujurnya aku mau menjadi pengganti Zayn di hatimu jika kamu membutuhkan orang lain.” Kaisar mengangguk dan menggenggam jemariku.  “Maksud kamu? Aku tidak mengerti, Sar.”
     “Maukah kamu menikah denganku, Nisa? Menjadi pendampingku untuk selamanya?”
     “Ka, kamu serius, Sar?” aku sangat kaget mendengarnya.”
    “Iya, aku tidak pernah seserius ini, kan?” Kaisar tersenyum memandangku. Aku ragu-ragu tapi setelah berpikir lama, akhirnya aku mengangguk. Hanya Kaisar yang setia padaku selama beberapa tahun ini. Dia sangat baik dan memperhatikanku. Aku tidak bisa menolaknya. “Baiklah, aku menerimanya.” Aku mengangguk lalu membalas  genggaman tangannya. “Kamu serius, Nis?” Kaisar bertanya lagi. Aku menjawabnya dengan mengangguk.
***
    Akhirnya, kini aku percaya terhadap pepatah “Hari ini akan menjadi hari yang lebih baik dari hari kemarin”. Perlahan tapi pasti, kebahagiaan sudah mulai menyelimutiku. Hari ini, pernikahanku akan berlangsung. Kaisar akan menjadi suamiku. Hari ini adalah hari yang paling kutunggu-tunggu di dalam hidupku. Hari dimana aku bersanding dengan kekasih yang akan mendampingiku selamanya.
     Tanggal 25 Maret 2014, hari yang paling bersejarah. Hari ini juga menjadi hari terakhir kali aku melihat Kaisar. Aku pasti akan merindukan kasihnya di sisiku. Sungguh, aku ingin terus bersamanya. Dan sekarang aku paham. Terhadap Zayn, aku mengenal ketakutan roller coaster yang menghantuiku. Semenjak mengenal Kaisar, ketakutan akan roller coasterku menjadi hilang dan digantikan oleh kebahagiaan. Kaisar akan selalu menjadi roller coasterku yang sejati. Ternyata bukan roller coaster yang membuatku takut, tapi perpisahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar