Sejatinya, aku tak pernah ada dalam bagian masa depanmu. Kau
hanya mengada-ada. Sejatinya kita tak pernah saling mencintai, atau lebih
tepatnya kau tak mencintaiku. Sejatinya aku hanya menetap dalam fatamorgana
yang kubangun sendiri. Sejatinya kau lebih suka bermain dalam ruang lingkup
yang lebih spesifik. Membuatnya retak dan tak ada niat memperbaiki.
Sulit memang jika pelukan diatasnamakan cinta bagi kalangan
pemuda-pemuda pesimis. Yang mengejar saat gerimis, meninggalkan sampai terasa
miris. Dia yang sebening embunpun tak luput dari tangan kasar yang senantiasa
kau toreh. Bagimu mungkin hal biasa, tapi belum tentu bagi kaum mereka.
Perempuan tak sudi diperlakukan kasar, mereka hanya sudi dicintai. Kau yang
terlihat menarik kadang tak kuasa membendung pelik. Wajahmu bak penutup saja
bagi aroma busukmu.
Perempuan yang mencintaimu dulu mungkin belum berbahagia
selepas kau torehkan luka dihatinya. Mungkin dia masih terengah-engah menemukan
gagang pintu untuk kabur dari ruangmu. Betapa sudi kau masih menganggukkan
kepala terhadapnya sementara dia saja telah berlutut di hadapanmu. Keparat!
Bahkan urat nadimu pun tak sudi melihat tangan amismu. Masih saja ia
bersembunyi di balik kulit tebal yang kau banggakan itu.
Setelah menemukan orang yang benar-benar kau cintai, kau
lupakan perempuan malang itu. Bahkan hanya untuk menyapanya pun kau enggan.
Padahal dahulu ia adalah wanitamu, meskipun tak terbesit sedikitpun cinta
untuknya di hatimu. Parah memang, tragis. Tak kau lihat usahanya saat ia
mencoba menjadikan dirinya yang pantas untukmu sementara kau sedang memantaskan
diri untuk seorang lain di belakangnya. Kau benar keparat!
Mungkin sadar atau tidak, takdir sedang menemuinya. DIA
hilangkan kau dari benaknya. DIA hilangkan kau dari pandangannya. DIA
memberikan ganti yang lebih baik bagi perempuan itu. Dibalut kembali luka
perempuan itu oleh-Nya. Diberikan sedikit demi sedikit ruang untuk memaafkan
dirinya sendiri. Dan kau, sadar atau tidak, DIA sedang menghukummu atas
penyesalan yang tak pernah kau ucap, menghukummu atas kesombongan gender
yang diberikan padamu. Menghukummu karena tak menjadi khalifah yang baik.
Sedikit demi sedikit luka di hati perempuan itu akan sembuh dan kembali
sebening embun. Dan kau, sedikit demi sedikit terbenam dalam lautan dosa yang
akan menenggelamkanmu hidup-hidup!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar