Sabtu, 09 Agustus 2014

Bintang di Mata Bumi

 11 Januari 2013.
       Hari itu adalah hari pertama aku bertemu dengan pemilik mata sayu itu. Mata pertama yang kulihat saat menjadi Mahasiswa baru di Universitas Mulia Arts. Mata yang mengingatkanku pada sosoknya yang penuh arti. Kusebut dia, Bintang.

23 Februari 2013.
        Aku. Bayu Ali Pratama. Aku seorang mahasiswa yang biasa saja. Hal yang menarik yang ada pada diriku hanya karena aku adalah seorang fotografer. Tidak handal. Namun, aku mempunyai keyakinan dan cita-cita yang tinggi akan profesi itu. Aku mempunyai tubuh yang sama dengan orang-orang normal pada umumnya. Kulitku tidak hitam, tidak juga putih. Tak usahlah hiraukan akan ciri dan bagaimana karakterku. Ini bercerita tentang, dia. Dia yang selalu kusebut Bintang.
        Aku memasuki kelas dengan langkah gontai sambil melirik setiap sudut untuk mencari sosoknya. Dia tak nampak. Tak mungkin dia tidak datang kuliah. Karena penasaran, aku berjalan mendekati Tia, sahabatnya.
        “Tia, Kirana mana, ya? Ngga masuk?” tanyaku dengan muka biasa saja agar Tia tidak curiga. “Masuk, kok, Bay. Tungguin aja. Emang dia gitu. Suka datang telat. Gue duluan, ya.” Tia masuk kelas meninggalkan aku yang melongo sendiri seperti patung. Memang benar, Kirana sering datang telat. Ya sudahlah, sebaiknya aku masuk kelas duluan.
         Aku baru saja berjalan 3 langkah dari tempat semula, seseorang berlari sambil meneriakkan namaku. “Bayu! Tungguin aku, Bay!” aku berbalik kearah suara perempuan itu. Ternyata dia Ayu Kirana. Aku berteman dengannya sejak masuk ke kampus ini. “Cepetan, Yu! Udah masuk, tuh.” Aku melambaikan tangan kearahnya. “Heem.. capek, Bay. Kamu, sih suruh cepet-cepet. Pak Jono aja belum masuk kelas.” Ayu menyapu keringat yang membasahi keningnya. “ Yaudah, masuk.” Aku menarik tangannya memasuki kelas.
         “Bay, mau ice cream nggak?” Tanya Ayu sambil menyodorkan satu ice cup kepadaku. Saat itu aku lagi membaca di taman belakang sekolah. “Tumben, lagi banyak uang, ya, Yu?” aku menerima ice cream sambil melihat kemasannya. Belum expired. “Ah, ngga juga, Bay. Papa ngasih duit lebih tadi, hehehe.” Dia nyengir lalu duduk di sampingku.
          Gue yang lagi asyiknya makan ice cream terkejut saat Ayu menepuk pundakku. “Bay, Bay! Andini Kirana, tuh.” Dia memegang kepalaku lalu memutarnya. Di ujung gedung tidak jauh dari tempat kami, Kirana melihat kami dan tersenyum. “Aduh, sakit. Ngapain diputer, sih? Kan bisa balik sendiri. Emang apa urusannya aku dengan Kirana?” aku menjawab jutek lalu melanjutkan memakan ice creamku yang tertunda. “Ada gosip kalau kamu suka ya sama Kirana?” dia bertanya lalu menghadap kearahku. “Kamu, ya. Gosip gitu aja dipercaya.” Aku nyengir kuda. “ Kamu bohong, ah. Ngaku aja. Ngga kenapa-napa kali, Bay.” Dia ngakak sampai ice creamnya hampir tumpah. “Kirana emang cantik, pinter, baik juga, sih. Pantas aja jadi idaman cowok seantero kampus.” Aku menjawab dengan senyum geli. “Tuhkan! Nggak mau ngaku lagi. Dasar Bayu!” Ayu mengambil tasnya lalu berjalan meninggalkanku dengan muka yang masih tersenyum puas. Itulah dia.
           “Yu, menurut kamu, Kirana itu orangnya gimana?” aku bertanya sambil meneguk pop orange juice. Aku dan Ayu saat ini berada di mall tak jauh dari kampus. Tepatnya di Aleon CafĂ©. Ayu memainkan gelas yang ada dihadapannya. “Kirana itu baik, cantik, ramah, pinter, pokoknya best-lah. Kenapa bertanya begitu, Bay?” dia berhenti memainkan gelas. “Cuma pengen tahu aja pendapat kamu. Tapi kalau menurut aku, Kirana itu istimewa. Dimataku, Kirana itu bintang. Selalu ada disetiap malamku. Ngga tahu kenapa, dia selalu ada di fikiranku, Yu. Dia bukan cewek yang biasa saja. She’s like an angel. Dia punya mata yang indah. Yang hanya aku yang dapat membacanya. Senyumnya. Aku suka segala tentang dia. Dia terlalu rumit untuk diartikan hanya dalam satu paragraf. Aku suka saat dia berjalan, tertawa, memegang kamera, tersenyum kearahku. Ah, dia. Bintang yang selalu kudambakan.” Aku memperhatikan air muka Ayu. Berbeda. Berbeda dari sebelumnya. “Kamu, kamu suka beneran sama Kirana, Bay?” dia bertanya perlahan. “Iya, bukan hanya suka. Tapi aku ingin dia. Aku mencintainya.” Aku menjawab dengan muka bingung. Kenapa Ayu bertanya seperti itu? Apakah ada yang salah? Ku ingat kembali perkataanku. Tak ada yang salah.
          “Bay, kamu cocok, kok sama dia. Aku setuju aja kalau kamu jadian sama dia. Dia gadis yang baik, kok. Kamu harus bisa naklukin hati Kirana secepatnya sebelum dia milik orang lain.” Ayu mengerjapkan mata dan menunduk. “Kamu kenapa, Yu? Kok wajahnya ditekuk?” aku bertanya dengan nada heran. “Apaan, nih? Aku nggak kenapa-napa, Bay. Becanda aja kamu.” Dia seperti tersenyum terpaksa. Ada yang salah dengan Ayu atau mungkin hanya perasaanku saja. Dia selalu begitu.

3 Maret 2013.
          Aku sedang mengamati berbagai lukisan dan potret unik yang dipajang di gedung aula. Hari ini diadakan pameran berbagai karya unik dan abstrak yang telah dikumpulkan oleh masing-masing mahasiswa angkatan 2012 sebelum aku. Aku sangat tertarik mengamati setiap detail dari lukisan dan potret tersebut. Idenya bagus. Dan yang paling menarik perhatianku yaitu, lukisan perempuan yang berada di pojok ruangan dekat dengan pintu keluar aula. Lukisan itu terbuat dari bulu hewan. Entah, sepertinya terbuat dari bulu kucing yang ditempel sedemikian rupa hingga membentuk seorang wanita yang sedang tertawa. Lukisan itu seperti dia. Unik, susah dijelaskan, dan objeknya pun, seperti benar-benar dia.
        Seseorang menjawil pundakku. Aku berbalik, Ayu. Dia menggunakan pakaian harajuku. Aku menatapnya tanpa bersuara. Heran dengan bocah ini. “Kamu, kenapa pake baju harajuku? Mau kontes dimana?” tanyaku heran setengah bercanda. “Jahat, nih. Aku pake baju ini untuk minta difotoin kamu. Pak Jono nyuruh para mahasiswi memakai baju yang unik untuk difoto trus dimasukin di majalah sekolah. Mau bantu foto ngga?” dia memperbaiki pita sambil berdehem pelan. “Oh gitu. Sini aku fotoin. Tapi kamu berdiri disamping lukisan itu,ya.” Aku menunjuk lukisan perempuan yang aku lihat tadi. “Oke.” Dia tersenyum. Dia manis kalau tersenyum, fikirku.

           Kirana berlari ke arah kami dengan nafas yang tersengal. “Aku mau difoto dong sama Ayu. Bolehkan, Bay?” Kirana merapikan harajuku dan kemudian berdiri di samping Ayu. Muka Ayu seperti tidak setuju. Namun, dia lalu tersenyum. Aku lega. Mereka berbalik ke arah kamera. “Satu, dua.. cheese!”
***
           Kami bertiga berjalan menuju kantin kampus. Rasanya lapar setelah seharian keliling melihat pameran. Kirana memegang tanganku. Aku merasa tidak enak dengan Ayu. Tapi nampaknya Ayu biasa-biasa saja. Dia sesekali melirik kami tapi sedetik kemudian kembali memperhatikan kameranya. Jadi, aku memegang tangan Kirana dengan rasa tenang. Kirana, melihat tangannya dengan tanganku. Wajahnya memerah. Mungkin dia malu. Dia lalu mendongak menatapku. Wajahnya imut, ya imut.
           Aku menatap fotonya lamat-lamat. Akhirnya kesampaian juga keinginanku untuk mendapat satu potret fotonya. Memperhatikan setiap lekukan senyumnya membuatku senyumku mengembang dengan sendirinya. Dia sangat pantas menjadi bintang. Aku tidak segan-segan menjadi bumi. Bumi yang selalu membutuhkan bintang di tiap malamnya. Ah, dia memang tak sekedar cantik. Ada sesuatu hal yang aku sangat sukai darinya. Ketulusannya. Aku membalikkan badan dan berdesah pelan. Apakah aku bisa menjadi yang terbaik untuknya? Pertanyaan itu sepertinya tak pernah memiliki jawaban.
***
           Esoknya, Ayu tidak masuk. Aku khawatir. Ada apa dengannya? Mungkin sebaiknya setelah kuliah aku berkunjung ke rumahnya. Mungkin dia sakit. Aku melirik kearah koridor kampus, Kirana berlari kearahku membawa setumpuk buku. Nampaknya dia sangat kerepotan. “Sini aku bantu, Na.” aku mengambil buku tersebut dari tangannya dan tersenyum. “Makasih, Bay.” Dia membalas senyumku. “Eh, Ayu mana, Bay? Tumben ngga sama kamu?” tanyanya. “Ngga tahu, Na. Dia ngga kelihatan dari tadi. Mungkin dia ngga masuk. Setelah jam terakhir, aku mau ke rumahnya. Mau ikut, ngga?” tanyaku kemudian berjalan kearah kelas. “Boleh. Aku juga mau ketemu dia. Setelah jam terakhir ya, ok?” dia mengambil buku dari tanganku kemudian berjalan mendahuluiku.
           Ayu sakit. Dan juga matanya sembab. Seperti habis nangis. Ada apa dengan dia? Siapa yang berani nyakitin sahabatku, Ayu? Dia juga ngga mau cerita. “Yu, cerita dong sama kita, siapa tahu kita bisa bantu?” tanyaku khawatir. “Aku ngga kenapa-napa, kok, Bay, Na. Ngga usah khawatir.” Ayu tersenyum. Tapi senyumnya berbeda. Seperti dipaksakan. Setelah lama berbincang dengannya, aku dan Kirana pamit untuk pulang.

 16 Maret 2013.
           Aku sedang berada di sebuah toko yang ada di mall dekat kampus. Aku sedang bingung memilih-milih kalung apa yang cocok dengannya. Tanggal 28 nanti, bintang akan ulang tahun yang ke-19. Aku akan memberikan hadiah terbaik yang bisa aku berikan. Aku berpendapat, kalung akan cocok untuknya. Namun, kalung yang seperti apa? Aku masih bingung memilih-milih. Akhirnya, aku mendapatkan kalung yang sangat cocok untuknya. Kalung bintang.

27 Maret 2013.
          Aku memutari gedung kampus mencari Ayu. Dia tidak kelihatan. Dia juga tidak menjawab telfonku. Aneh. Akhirnya, aku mendapatinya sedang ngemil snack di belakang kampus sambil membaca. Aku mendekatinya. Dia merasakan kehadiranku lalu berbalik. “Bayu? Ngapain kesini?” tanyanya dengan muka sok imut. “Emang ngga boleh?” aku bertanya menggoda. “Boleh, boleh hehe.” Dia tertawa. “Eh, aku mau minta pendapat, menurut kamu, cewek itu kalau dikasih hadiah, sukanya hadiah yang seperti apa?” aku bertanya malu-malu lalu duduk di sampingnya. “Hmm, apa ya? Gaun? Sepatu? Emas? Aku ngga tau, Bay.” Dia membalikkan badan menghadap kearahku. “Kalau kalung, bagus ngga, Yu?” tanyaku hati-hati “Bagus, kok. Emang, kamu mau kasih hadiah ke siapa, sih?” tanyanya lalu mengambil snack terakhir. “Aku mau ngasih orang yang special, hehe.” Aku nyengir. “Kirana kan? Sok ngga mau ngasih tau lagi.” Dia tertawa lagi. “Hehe.” Aku nyengir kemudian tersenyum. “Kamu, punya ngga sosok yang kamu idamkan?” tanyaku tiba-tiba. “Hmm, ada dong, Bay” dia nyengir lagi. “Dia orang seperti apa?” tanyaku kenudian. “Yang jelas, hanya dia yang bisa ngebuat aku nyaman kalau ada dia.” Jawab Ayu dengan tatapan mata sendu. Ada yang berbeda.

There’s something in the way you look at me                                                                              
If you changed my heart knows you’re the missing piece                             
You make me believe that there’s nothing in this world I can’t be                                                          
I never knew what you see                                                                                                                
But there’s something in the way you look at me...

            Aku mendengarkan lagu dari Christian Bautista. Lagunya menyejukkan. Aku sedang berfikir, apakah aku bisa menyatakan cinta di hadapannya besok? Di hari ulang tahunnya? Ah, perasaanku saat ini sangat kacau. Aku tidak tahu aku harus bagaimana. Apakah dia akan menertawakanku dan menganggap semuanya hanya bualan semata? Hanya omong kosong yang dibuat-buat? Perasaanku menjadi tak karuan. Apakah wajar menyukai seseorang dalam kurun waktu 2 bulan lebih?

28 Maret 2013.
            Inilah harinya. Perasaanku menjadi berdebar-debar. Ketakutanku jauh lebih parah dari tugas-tugas rumit yang diberikan Pak Radi selama ini. Jantungku berdetak 3 kali lebih cepat. Ini hanya dugaanku. Keringat mulai membasahi sekujur tubuhku. Sebentar lagi dia akan menemuiku disini. Di taman belakang kampus. Aku tidak sabar dan tidak juga ingin cepat-cepat. Badanku lemas seketika saat mendengar suara langkah mendekat kearahku.
            “Hei, Bay. Ngapain sendirian disini?” Ayu duduk di sampingku dan mengeluarkan ipodnya. “Jangan dipasang dulu, Yu. Aku mau ngomong sesuatu.” Aku memegang tangannya lalu mengambil ipodnya. Dia memasang wajah dengan terheran-heran. “Yu, kamu Ayu Kirana, kan?” aku memulai. “Iya. Kamu kenapa, sih, Bay?” dia melongo menatapku. “Selama ini, hanya satu nama gadis yang selalu kusanjung di dalam otakku. Juga disini.” Aku meletakkan tangannya di dadaku. “Maksud kamu apa, Bay?” dia melepas pegangan tanganku dan menunduk. “Ya, kamulah orang yang selama ini aku suka, selama ini aku tunggu. Kamu yang selalu hadir di tiap malamku. Kamu juga merasakan hal yang sama, bukan?” tanyaku membelai wajahnya. “Tidak. Kamu salah orang, Bay. Gadis yang selama ini kamu sebut bintang, dia adalah Kirana. Gadis pujaan seantero kampus. Kamu salah, Bay.” Aku melihat mata sayu itu mulai berkaca-kaca. “Tidak. Bintang dan Kirana adalah satu orang yang sama. Kirana yang selalu kudamba adalah kamu. Ayu Kirana. Namun, aku tak pernah berani mengatakannya. Tapi hari ini, aku akan mengatakan semuanya.” Senyumku lagi berusaha melihat matanya yang sayu. “Tapi selama ini, kamu sangat dekat dengan Kirana. Sampai kamu mau bergandengan tangan dengannya. Apa maksudnya semua itu?” air mata mulai mengalir di pipinya. “Aku, aku hanya ingin lihat reaksi kamu. Aku hanya ingin tahu itu, Yu. Kamu ngerti kan? Jadi jawaban kamu apa? Kamu punya rasa yang sama, kan?” tanyaku lagi tak tahan melihatnya menangis. Kupasangkan kalung bintang di lehernya yang indah. “Aku ingin selamanya sama kamu, karena bintang adalah Kirana. Kamu.” Aku sekarang sudah bisa melihatnya tersenyum lagi. Dia milikku.

Rabu, 14 Mei 2014

Temen Jahil

Menurut kalian, enak ngga, sih, punya temen jahil?

Hemm.. Kalau dipikir-pikir, nih guys, punya temen yang jahil itu menyenangkan lho. Mereka bisa jadi diri mereka sendiri. Mereka mengajak kita masuk ke dunia mereka yang menyenangkan. Hidup kita bisa jadi tidak absurd lagi. Punya temen yang jahil juga bisa membuat kita ngakak tingkat dewa! Apalagi jika melihat kejahilan mereka yang sumpah, bikin bibir kalian jontor karena kebanyakan ngakak. Temen yang jahil biasanya memiliki banyak ide untuk membuat kekacauan gila di sekitar kita. Kita yang tadinya kesel karena dijahilin, jadi ngga jadi deh marahnya kalau ngeliat mereka masang tampang bloon. Sok-sok ngerasa mereka ngga bersalah. Alasannya karena cuma pengen becanda doang. Iya, sih, becanda doang, tapi kan ngga perlu kelewatan. Tapi begitulah mereka. Jikalau kejahilan mereka sudah kelewat batas, mereka pasti akan minta maaf. Jiwa orang yang jahil biasanya lebih memaknai hidup ketimbang orang yang serius dan ngga punya sense of humor. Mereka-mereka ini sangat dibutuhkan di bumi permai ini. Apa jadinya jika tidak ada orang yang segila mereka? Hufft.. Tapi dibalik sisi positifnya, ada juga dampak negatif yang bisa terjadi karena kejahilan mereka.
>> Orang yang ngga suka humor pasti akan cepat marah kalau dijahilin oleh mereka
>> Bisa aja, kan, orang lagi tidur karena sakit trus digangguin sama mereka jadinya orang itu malah tambah sakit
>> Dikatain gila dan norak oleh orang banyak. Juga dikatain masih ingusan.
Jadi, sekarang tinggal milih, mau punya temen yang biasa aja atau yang seperti diatas? ;)

Selasa, 13 Mei 2014

Pesan Cinta Angin

           Udara musim gugur masih menyelimuti kota London saat itu. Masih terbilang hangat. Tepatnya di  kota Bradford, bagian utara Negara Inggris. Gadis berusia 17 tahun itu berjalan di setapak menuju bukit tak jauh dari rumahnya. Bukit itu terletak di dalam hutan lebih tepatnya. Daun-daun berguguran dan jatuh tepat di atas kepala gadis yang memegang keranjang kue tersebut. Gadis itu bernama Flo. Sekarang, ia mengitari sungai dengan langkah berhati-hati. Takut bajunya basah terkena percikan air dari sepatunya. Dia melangkah sesembari bersenandung kecil. Flo kemudian mendongak ke arah belakang. Dilihatnya asap-asap mengepul dari kejauhan. Mungkin saja ada yang sedang berkemah di dekat-dekat hutan ini. Tak apalah. Itu tak menyurutkan niatnya untuk cepat-cepat sampai ke bukit yang dikenal dengan bukit Seedmoun.
            Flo membentangkan alas pakis untuk dijadikan tempat duduk dan menaruh sekeranjang penuh kue kering bikinannya sendiri di atasnya. Dia mendengar daun-daun yang gemerisik, binatang kecil yang berlalu-lalang di dekatnya, dan suara nafasnya sendiri. Sangat damai. Sendiri di tempat sejuk seperti sekarang ini adalah kesukaannya.
            Lalu terdengar suara kaki melangkah mendekat. Flo berbalik. Ternyata Kai. Kai adalah satu-satunya teman lelaki yang ia punya sejak kecil. Dia sedang memakai tas ransel dan sepatu boots. Kai meringis kecil melihat Flo yang terheran-heran menatapnya. “Hei! Ada apa? Kenapa menatap dengan wajah anehmu itu?” seru Kai sambil terkikik geli. Dia kemudian duduk di samping Flo dan meletakkan ransel yang dikenakannya. Kai menyodorkan sekotak kue ke Flo setelah dilihatnya gadis itu tersenyum. “Kamu mau, Flo?” Tanya Kai sesembari memperbaiki posisi duduknya. “Apa itu?” Tanya Flo berbalik. “Hanya kue kering. Tadi kakek Gupps membuatkan lebih untuk kita. Mau tidak? Kalau tidak, aku akan makan sendiri.” Kai tersenyum jahil. “Berikan aku sepotong saja.” jawab gadis itu tanpa memperdulikan wajah Kai yang aneh. “Kai, mau tidak kamu menemaniku ke toko Seffin tidak jauh dari sini? Aku ingin membeli puding” tanyanya lagi lalu bangkit dan membereskan kue-kue dan alas pakis yang telah lama tertindih. “Boleh saja. Ayo!” Kai mengangguk kemudian bangkit dan berjalan mendahului Flo.
***
            Esoknya, Flo menelpon Kai. Tidak terjawab. Dicoba lagi olehnya. Hasilnya nihil. Flo tergopoh mengambil flat shoes-nya lalu berlari keluar menuju ke rumah Kai. Gadis itu menabrak ibunya yang sedang membawa tanaman. Ia secepat kilat mengambil sepedanya yang terparkir di halaman depan. Ibunya beberapa kali mengumpatnya menyuruhnya berhati-berhati. Flo hanya mengangguk kemudian mengayuh sepedanya dengan cepat.
            “Kai, Kai. Kamu ada di dalam?” Flo mengetuk pintu rumah Kai beberapa kali. Tak ada yang membukakan pintu untuknya. Badannya lemas. Kai kemana? Tumben dia pergi tanpa bilang dulu? Flo pusing memikirkannya. Dia lalu beringsut mendekati jendela. Tak nampak siapa-siapa. Mungkin Kai ke kota, pikirnya.
            Flo mengayuh sepedanya menuju bukit Seedmoun. Dia memarkir sepedanya di seberang sungai lalu berjalan mendekati hutan pinus tak jauh dari situ. Dia melihat seorang lelaki sebayanya sedang melukis di bawah pohon itu. Kai! Sedang apa anak itu? Melukis sendirian di bawah pohon. Flo lalu mendekatinya. Kai merasakan kehadiran Flo lalu berbalik dan tersenyum. Flo mengusap keringat di dahinya. Dia benar-benar Kai.
            Flo memperhatikan setiap goresan lukisan Kai. Sangat indah. Kai sedang melukis sungai yang ada di hadapannya. Dia sangat pandai melukis. “Kai, aku juga mau pandai melukis. Mau tidak kamu mengajariku?” Tanya Flo malu-malu. “Boleh. Tapi tunggu lukisan ini selesai dulu, ya.” Flo mengangguk seraya memberikan jempol tanda setuju. Kai kemudian melanjutkan lukisan sungainya itu.
            Flo terkantuk-kantuk menunggu Kai selesai melukis. Akhirnya dia merebahkan kepalanya di bahu Kai. Kai menyadari sesuatu. Dia lalu berhenti sebentar untuk menatap wajah gadis itu. Flo telah tertidur. Matanya. Senyumnya. Kai sangat menyayangi Flo. Entah sebagai apa. Kai tidak yakin. Kai kemudian menyimpan kuas yang sedari tadi ia pegang ke dalam kotak lukisnya. Dia lalu merangkul pinggang Flo. Dan menaruh kepalanya di kepala Flo. Dia sangat ingin berlama-lama di samping Flo untuk saat ini.
            Flo merenggangkan badan. Ia lalu melihat arlojinya. Sudah pukul 4 sore. Berarti sudah 2 jam ia tertidur di bawah pohon pinus ini. Cukup lama. Dia seraya bangkit dan celingak-celinguk mencari Kai. Dia lalu melihat sebuah lukisan. Lukisannya berbeda. Dia mendekat ke arah lukisan tersebut. Ketika ia hampir 5  langkah dari lukisan tersebut, Kai tiba-tiba datang dan mengambil lukisan tersebut dan menyembunyikan lukisan itu di belakangnya. “Hei Kai! Aku mau lihat. Apa tidak boleh?” Tanya Flo dengan wajah cemberut. Kai berdehem. “Boleh saja. Tapi belum selesai. Nanti saja jika sudah selesai.” Kai tersenyum kemudian menyimpan lukisan tersebut di bawah pohon pinus. Hanya belakangnya saja yang nampak dari lukisan tersebut. Flo tidak bisa melihat gambarnya. Kai lalu menarik Flo menuju sungai. Kai menggenggam tangan Flo. Flo sesekali berbalik melihat lukisan tersebut. Dia sangat penasaran seperti apa lukisan Kai. Tiba-tiba, air sungai terpercik ke arahnya. Kai tersenyum nakal dan memercikkan air ke arah Flo. Flo lalu membalas sambil tertawa. “Awas kamu, Kai. Lihat saja! Kamu akan basah.” Teriak Flo seraya memercikkan air sungai ke arah Kai dengan lebih keras.
            Matahari mulai tumbang di arah barat. Burung-burung kembali ke sarangnya masing-masing. Flo dan Kai sibuk membereskan peralatan lukis Kai. Flo melirik ke arah lukisan Kai. Masih penasaran. Kai paham mengapa Flo menatap lamat-lamat lukisannya itu. Kai lalu mengajak Flo mengambil sepedanya di seberang sungai. Hari hampir gelap. Mereka harus segera bergegas. Jika tidak, mereka akan tersesat.
            Kai menuntun sepeda Flo di sepanjang jalan setapak. Hari telah gelap. Mereka bingung akan berjalan kemana. Flo merogoh saku depan jaketnya. Nasib baik, ia membawa senter. Dia lalu menyorotkan senter di sepanjang jalan. “Kai, kamu hafal tidak jalan pulang jika gelap begini?” Tanya Flo mulai takut-takut. Kai mengangkat bahu. Flo mendesah pelan. Jangan-jangan mereka tersesat. Mereka mengitari hutan tersebut selama satu setengah jam. Flo melirik arlojinya. Sudah pukul 18.25. Flo mulai khawatir. Ibunya pasti khawatir padanya. Begitu juga dengan kakek Kai. Flo melirik sekilas ke arah Kai. Kai bersikap biasa saja. Mungkin saja Kai tahu jalan pulang. Flo kemudian bersikap biasa saja walau ia tahu perasaannya tidak enak saat ini. Waswas. Namun, jika masih ada Kai di sampingnya, Flo masih bisa menahan rasa takutnya.
            Kai tiba-tiba berhenti berjalan. Dia lalu menyandarkan sepeda Flo di salah satu pohon. “Flo, daripada kita berjalan namun tambah masuk ke dalam hutan, lebih baik kita bermalam di sini dulu. Kamu juga capek, kan?” Tanya Kai. Flo mengangguk. Kai lalu mengajak Flo ke bawah salah satu pohon yang besar. Dia menyampirkan ransel dan mengambil sebotol air mineral. “Ini, minum dulu. Kamu pastinya capek.” Tawar Kai menyodorkannya kepada Flo. Flo menerima air tersebut dan meneguknya dengan berhati-hati dan menyisakan setengah untuk Kai. “Kai, kamu juga capek, kan? Kamu juga minum. Ini.” Flo memberikan air tersebut kepada Kai. Kai meneguk sampai tetes terakhir. Kai lalu bangkit. “Flo, kamu tunggu disini dulu, ya. Aku mau cari daun pakis dulu untuk dipakai sebagai alas tidur nanti. Aku tidak akan lama. Pinjamkan aku sentermu.” Kata Kai lalu mengambil senter di tangan Flo. “Oke, jangan lama, ya. Aku takut, Kai.” Kata Flo seraya memegang tangan Kai. Dingin. “Iya. Kamu tunggu saja. Aku pergi.” Kai berlari kecil lalu hilang di dalam gelap. Baiknya, malam ini bulan bersinar utuh. Jadi Flo sedikit bisa melihat keadaan sekitar. Gadis manis itu kemudian mengepang rambutnya yang terurai sedari tadi. Dia merogoh sakunya dan menemukan 3 permen karet. Lumayan. Dia bisa memberikannya juga kepada Kai. Dia mendengar suara langkah kaki mendekat. Tapi, sepertinya bukan Kai. Langkahnya seperti dua orang. Flo mengerjapkan mata. Benar-benar bukan Kai. Flo mulai takut. Dia lalu berteriak memanggil Kai. Dua orang bertubuh jakung itu mendekat ke arah Flo. Mereka lalu membungkam mulut Flo. Flo berusaha berteriak memanggil Kai. Kai belum datang. Ia berusaha berteriak sekeras mungkin dalam bungkaman dua orang lelaki asing itu. Flo memberontak. Tiba-tiba terdengar suara Kai. “Kalian!!!! Mau apa kalian? Haaa? Apa yang kalian lakukan terhadap gadisku?” Kai berlari lalu menerjang dua orang lelaki itu sekaligus dan meninjunya beberapa kali. Kepala. Perut. Semuanya seperti kesetanan. Seorang bertubuh jakung itu meninju perut Kai dengan tinjuan bertubi-tubi. Kai terjatuh sambil memegangi perutnya.  Flo ketakutan dan tidak tega, tetapi ia memberanikan diri untuk membantu Kai. Ia melihat ranting besar dan memukulkan ranting tersebut ke lelaki yang menyerang Kai tersebut. Kepala lelaki itu berdarah terkena ranting yang runcing itu. Kai menarik Flo untuk segera pergi dari tempat itu. Kai menggenggam tangan Flo dengan erat. Mereka terus berlari. Mereka melihat asap megepul di kejauhan. Flo sudah mengenal tempat ini. Flo menyuruh Kai untuk mengikutinya seraya tersenyum. Tidak sampai 10 menit, mereka telah keluar dari hutan tersebut. Mereka segera menuju kantor polisi terdekat. Tempatnya kecil. Tapi Flo mengenal salah satu polisi tersebut dengan baik.
**
            Mereka baru saja pulang dari kantor polisi dan menceritakan kejadian yang mereka alami. Malam telah larut. Namun bulan masih sangat baik. Cahayanya masih membantu Kai dan Flo  untuk melihat jalan yang mereka lalui. Kai berhenti sebentar lalu menatap Flo. Ada tersirat rasa khawatir di wajahnya. Kai lalu memeluk Flo. “Kamu masih ketakutan, Flo? Badan kamu juga dingin.” Kai memeluk Flo dengan erat dan mengusap kepala gadis yang disayanginya itu. Dilepaskannya pelukan yang sedari tadi Ia lakukan. Flo mengangguk kemudian terlihat cairan bening membasahi wajah manis Flo. Gadis itu menangis. Kai merasa iba. Ia kemudian kembali memeluk Flo. “Tenang saja, Flo. Ada aku disini. Kamu akan aman bersamaku. Sekarang, ayo kita pulang.” Kai melepas pelukannya kemudian menggenggam tangan Flo. Gadis itu masih terdiam. “Kai, terima kasih. Terima kasih karena kamu telah menolongku tadi. Tapi, bagaimana dengan barang-barang dan lukisan yang kita tinggalkan di hutan tadi? Haruskah kita kembali mengambilnya?” Tanya Flo berhenti sebentar. “Jangan perdulikan itu. Sekarang, aku akan mengantarmu pulang supaya kamu selamat sampai rumah. Besok saja barang-barang itu kuambil. Ayo! Bergegas!” Kai menarik tangan Flo dengan lembut. Udara malam itu dingin menusuk sampai ke tulang. Gigi Kai sampai terdengar gemeletuk. Dia tidak menggunakan jaket. Hanya memakai kaos oblong biasa dan flat shoes yang dibelinya di pasar loak. Flo memperhatikan wajah Kai dengan seksama. Sepertinya Kai tidak dalam keadaan baik-baik saja. Selain beberapa luka di wajahnya, Flo tidak melihat sesuatu yang lain. Tetapi perasaannya mengatakan bahwa Kai sedang kesakitan. Entah apa. Hanya lekukan senyum Kai yang Flo lihat. Selain itu, tidak ada.
**
            Flo bergegas memakai jaket yang semalam ia sampirkan di balik pintu. Sekonyong-konyong, ia berlari cepat menuju ke halaman belakang. Namun, ibunya tak nampak. Dia lalu berlari ke dapur. Dia melihat ibunya sedang membuat kue. Aromanya menyebar di dalam rumah. Sepertinya enak. Tetapi, Flo harus segera bergegas. Dia mencium pipi ibunya kemudian pamit menuju ke rumah Kai.
            Flo tidak sepenuhnya ke rumah Kai. Dia hanya lewat. Dia sepertinya akan ke hutan tempat mereka hampir bermalam kemarin. Tujuannya Cuma satu. Lukisan Kai. Sepertinya lukisan itu berharga buatnya. Semalam, ia melihat wajah Kai yang berubah saat Flo berniat akan mengambil lukisan tersebut. Pasti lukisan itu sangat bagus sampai-sampai dia tidak berniat sedikitpun memperlihatkannya kepada Flo. Flo tidak yakin. Tapi, rasanya dia harus mengambil lukisan tersebut untuk diberikan kepada Kai.
***
            Kai sedang mengamati lukisan yang kemarin dibuatnya. Kai tersenyum. Tetapi, sedetik kemudian, dia menutup kembali lukisan tersebut karena Kai merasakan kehadiran Flo. Flo memasang wajah cemberut. “Kamu pelit, Kai. Tidak ingin memperlihatkan kepadaku lukisanmu itu. Padahal, kan, aku sahabatmu.” Flo menunjukkan wajah manyun. Kai tertawa kecil melihat kelakuan Flo. “Kamu seperti anak kecil, Flo.” Kai tertawa mengejeknya. “Aku memang masih kecil. Lihat saja wajahku. Masih seperti wajah bayi nyonya Peter. Imut dan menggemaskan.” Flo membalas ejekan Kai lalu menjulurkan lidah. Kai tersenyum kemudian mengacak rambut Flo.
            Tiba-tiba, semenit kemudian, Kai jatuh pingsan. Flo sangat kaget. Digoyang-goyangkannya tubuh Kai. Tetap tidak ada respon. “Kai? Kamu kenapa? Kai! Bangun kai!” Flo tetap mengguncang tubuh Kai. Dia sangat panik dan khawatir. Dia bingung harus melakukan apa. Air mata Flo menetes. Gadis itu menangis sesembari memandangi wajah Kai yang penuh luka lebam. Gadis itu berteriak minta tolong. Namun, tak seorang pun mendengar. Flo berusaha menggotong tubuh Kai. Dia tak sanggup. Dicobanya lagi. Tubuh Kai mulai terangkat sedikit demi sedikit. Saat mengangkat Kai, Flo tidak sengaja menyibak kain yang menutupi lukisan Kai. Air matanya tambah deras mengalir. Itu gambar dirinya yang sedang tertidur. Mengapa Kai tidak mengatakannya? Mengapa Kai menyembunyikan hal itu dari Flo? Flo sudah tak sanggup memikirkan apa-apa. Dia berusaha sekuat tenaga menggotong Kai keluar dari hutan tersebut. Jatuh bangun. Sudah beberapa luka gores ditubuhnya tak diperdulikannya. Jalan semakin menanjak saja. Tapi akhirnya, Flo sampai di depan rumah Kai. Dia membawa Kai masuk. Kakek Gupps, kakek Kai sudah siap melontarkan banyak pertanyaan. Namun, diuurungkan niatnya karena melihat Flo yang kelelahan.  Setelah dua jam berlalu, Flo pamit untuk pulang. Kakek Kai hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan.

***
            Kai dan Flo duduk bersampingan di dekat sungai favorit mereka. Flo menyandarkan kepalanya di bahu Kai. Kai melihat Flo seraya tersenyum. “Flo, apakah aku masih bisa hidup lama? Apakah aku masih bisa di dekatmu terus seperti ini? Apakah kanker yang kuderita akan membunuhku?” Air mata Kai luruh jatuh membasahi wajahnya. Flo tidak tega melihatnya. Diusapnya air mata Kai. “Kamu akan tetap hidup, Kai. Aku tidak akan membiarkan kanker itu membunuhmu. Tidak akan. Tidak akan kubiarkan orang yang kucintai meninggalkanku seperti itu.” Flo tersenyum memandang Kai. “Flo, kalau suatu saat aku pergi, aku akan menitipkan cintaku kepada angin. Angin yang akan menjadi perantara aku dan kamu. Setiap hela udara yang kamu hirup, akan ada aku diantaranya. Kamu akan selalu menjadi yang nomor satu, Flo.” Kai memeluk Flo erat kemudian melepaskan pelukannya. “Kamu janji, Kai?” Tanya Flo menggenggam tangan Kai. “Ya, aku janji.” Kai memegang tangan Flo dan menaruhnya di dadanya. “Kamu akan selalu ada disini.”

                                                          The stars lean down to kiss you
                                                          And I lie awake and miss you
                                                    Pour me a heavy doze of atmosphere
                                                    ‘Cause I’ll doze of safe and soundly
                                                          I miss your arms around me
                                                       I’d send a postcard to you, Dear
                                                        ‘Cause I wish you were here


     The song by Owl City-Vanilla Twilight -

My Roller Coaster

      Ku pandangi benda besar yang bergerak di depanku. Benda tersebut membuat tengkukku semakin merinding. Aneh saja, semakin banyak orang yang ingin mencobanya. Jujur, aku takut naik roller coaster. Permainan ini hanya akan membuat jantungku berlari kencang. Aku menelan ludah sekali lagi. Cowok di sebelahku menggandeng tanganku erat. Seperti tahu bahwa sekarang aku sedang ketakutan.
     “Sa, kalau takut banget ngga usah dipaksain, kok. Aku lihat muka kamu daritadi pucet banget. Aku kasian liatnya. Cowok di sampingku menarik tanganku untuk segera menjauhi roller coaster itu. “Aku tidak kenapa-napa, Zayn. Aku cuma ngeliat ekspresi wajah mereka, teriakan mereka, persis seperti teriakan mama dulu sewaktu dipukuli oleh papaku. Tapi bedanya karena mereka berteriak karena bahagia.” Aku menjawab sendu kemudian duduk di bangku tak jauh dari situ. Zayn mengangguk seakan mengerti. Dia mengikutiku dan duduk di sampingku. Kekasihku ini adalah orang indo. Ayahnya adalah orang Jerman dan ibunya adalah wanita Yogyakarta. Aku memperhatikan wajahnya. Apakah Zayn paham bagaimana rasanya memiliki keluarga broken home? Ku amati wajahnya yang sedang berusaha menyembunyikan kecemasannya. Dia sepertinya mengetahui bahwa aku sedang memperhatikannya. Dia menoleh kemudian mengulas senyum tipis. Aku lega, Zayn tahu sedikit lukaku.
   Kemarin, di sekolah ada seorang siswi baru pindahan dari Belanda. Namanya Alicia Mary. Aku mengetahuinya dari teman kelasku, Rani, yang sangat up to date terhadap hal seperti itu. Ternyata Mary juga sekelas dengan Zayn. Aku merasa tidak enak jika Zayn sekelas dengan gadis itu. Entah mengapa, gadis itu sepertinya baik dan sangat… cantik. Jika dibandingkan denganku aku tidak ada apa-apanya. Parasnya yang cantik berbanding lurus dengan lekuk tubuhnya yang indah. Aku tiba-tiba diterpa kecemasan. Aku takut jika Zayn berpaling dariku. Aku tak mengerti kenapa tiba-tiba saja aku memikirkan hal yang tidak beralasan seperti itu. Aku menggeleng kuat-kuat. Tidak, Zayn adalah milikku.
***
     Praaang!! Terdengar lagi suara guci dibanting dari dalam rumahku. Aku yang tadinya sudah memegang gagang pintu akhirnya terdiam membeku. Haruskah aku masuk? Pikirku. Tidak. Tapi bagaimana dengan mama? Akhirnya setelah menghembuskan nafas berkali-kali untuk menenangkan hatiku yang berkecamuk, aku memutuskan untuk masuk.
   “Kamu jaga saja anakmu yang tidak tahu diri itu! Dasar wanita sialan! Kamu tidak tahu bagaimana capeknya mencari uang, HAH? Jangan menuduh yang macam-macam kamu!” bentak papa terhadap mama. Aku segera menghambur ke pelukan mama. Papa melayangkan tangannya ke udara hendak menampar mama. “Lakuin, pa! Lakukanlah semau papa!” aku berteriak tertahan tak sanggup apa-apa. Mama memelukku erat sambil berurai air mata. “Apa belum puas papa menyakiti hati mama? Kenapa sekarang papa berani sakiti fisik mama? Papa benar-benar bukan papa yang dulu lagi!” bentakku kesal kepada papa. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku sesenggukan melihat wajah mama yang lebam. Aku memegang pipi mama yang sudah berdarah dihantam papa. “Mama baik-baik saja, sayang.” Mama memelukku semakin erat. Kulihat papa yang sedang mondar-mandir di hadapan kami sambil memegangi kepalanya. “Kalian! Kalian memang tidak tahu berterima kasih! Dan kamu Nisa, jaga wanita itu baik-baik. Aku sudah muak melihatnya. Jangan sampai aku menamparnya lagi.” Papa berbalik melangkah keluar sesembari membanting pintu. Aku menenangkan mama yang masih memelukku. “Tenang, Ma. Jangan nangis. Masih ada Nisa yang setia ngejagain mama.” Aku menepis air mata mama dan menyunggingkan senyuman.
     Hari ini, rencananya aku akan pergi ke taman bersama Zayn. Tapi, dia mendadak tidak bisa. Katanya sibuk. Aku kecewa. Sudah dua kalinya dia tak ada di sampingku saat ku membutuhkannya.  Aku merasa sangat sedih saat ini.  Dan untuk menghibur hatiku, aku memutuskan untuk pergi ke toko buku.
     Aku sedang berjalan di rak buku novel-novel teen-lit saat kulihat sepasang sejoli, eh tidak, maksudku sepasang teman sedang bergurau sambil menunjuk buku yang dipegang oleh si lelaki. Zayn nampaknya tidak risih berada di dekat Mary. Dan tiba-tiba Zayn mengacak rambut ikal Mary. Aku segera naik pitam. Zayn sudah membohongiku. Aku tidak menyangka dia tega membohongiku demi bertemu dengan Alice. Hatiku panas dan sebelum aku meledak di depan mereka, aku mengembalikan buku yang kupegang ke rak semula dan berlari keluar. Pulang.
     Orang-orang yang berjalan di sekitarku saling berbisik-bisik. Mungkin karena melihat perempuan tolol sepertiku sedang menangis. Aku sangat ingin menahannya tapi tak bisa. Bergegas kupercepat langkahku. Tanganku mulai mengepal marah. Semua laki-laki di dunia ini sama saja. Mereka pembohong dan brengsek!. Dan karena ketololanku hingga aku jatuh di kubang lumpur yang sudah dibuat sedemikian sempurna oleh Zayn. Aku benar-benar benci dibohongi. Aku juga benci Zayn!
***
     Aku memainkan ponselku selama berjam-jam. Yang tidak kumengerti, mengapa aku melakukannya. Sebuah pesan masuk tertera di layar ponselku. Kulihat nama pengirimnya. MY ZAYN.
Malam sayang. Kamu lg apa? Kok ngga ada kabar?
       Aku memutuskan untuk tidak menggubrisnya. 10 menit kemudian, satu sms masuk lagi.
Nisanya aku, km udah tidur yaa?
       Aku muak dengan kicauannya. Aku membalasnya sinis.
Belum tidur.
       SENT.
       Ponselku berdering lagi.
Balesnya kok gt? Kamu capek say?
     Aku melempar hapeku ke kasur. Saat ini aku sedang tidak ingin berdebat. Aku masih marah. Aku belum bisa memaafkannya.
            ***
     Zayn menghampiriku di kelas. Aku hanya terdiam dan tak memperdulikan kedatangannya. Dia duduk di sampingku. “Hai, Nis.” Katanya. Aku hanya memandangnya sinis kemudian melempar pandangan ke arah jendela. Dia sepertinya menyadari sikapku. “Nis, kamu kenapa, sih? Kok kayaknya lagi kesel gitu?” Zayn mengambil tangan kiriku dan menggenggamnya. Aku menarik tanganku. Dia memegang pundakku dan berusaha membuatku memandangnya. Aku mendesah pelan. “Kita sudah cukup sampai disini.” Aku langsung to the point. “Maksud kamu?” dia bertanya hal-hal yang membuatku geram. “Kamu sudah bohong! PUAS? Aku tidak mau punya pacar seorang pembohong! Kamu memang seperti papa! Semuanya bikin aku marah!’ aku tidak bisa menahan emosiku kini. Zayn memandangku tidak mengerti. Seperti butuh penjelasan, akhirnya aku mengutarakan semuanya. ‘Kamu, kamu tega bohongin aku hanya untuk jalan dengan dia. Kamu tahu, kan kalau aku benci kebohongan. Binatang yang bernama kebohongan itu juga yang menghancurkan keluargaku. Dan sekarang, menghancurkan kita dan semuanya salahmu!” Aku berteriak di depan wajahnya. Air mataku mulai tak terbendung. Aku menahannya sebisa mungkin agar tidak terjatuh. Mungkin saat ini aku sangat kekanak-kanakan. Tapi, aku tidak mau kejadian yang menimpa mama menimpaku juga. Air mataku luruh menetes. “Nisa, ka-kamu nangis?” aku menunduk tak sanggup melihat matanya. “Yang kamu maksud apa? Maksud kamu Mary?” dia bertanya sambil menyapu air mataku. Kutepis tangannya untuk tidak menyentuhku. “Mary itu cuma.. cuma…” Zayn tidak meneruskan kalimatnya. Aku sangat marah. Rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya saat ini. Tidak mungkin Zayn selingkuh dariku. “Cukup! Terserahlah, mau Alice, Mary, atau siapalah namanya, aku tidak perduli. Kamu bahkan tidak bisa menjelaskannya, Zayn. Aku tidak menyangka begitu tega kamu sama aku.” Aku menangis terisak. Aku berlari keluar tetapi kepalaku terasa pusing dan badanku terhuyung akan jatuh. Dan akhirnya aku sudah tidak kuat menopang tubuhku. Aku pingsan.
            ***
  “Nisa, ini aku. Bangunlah.” Aku sayup-sayup mendengar suara Zayn. Aku perlahan-lahan membuka mataku. Kuperhatikan ruangan tempatku berbaring. Aku sedang di rumah sakit. Nampaknya sakitku kambuh lagi. Mataku berhenti pada seorang lelaki yang duduk di sampingku. Aku tidak ingin memandangnya. Nampaknya lukaku masih sakit seperti tadi pagi. “Aku tahu kamu marah, Nisa. Maafin aku, sayang.” Dia memegang tanganku lembut. Aku membiarkan tanganku digenggam olehnya. Aku saat ini sedang tidak ingin berdebat. “Aku tidak ingin membahas itu lagi.” Kataku. “Dan, aku sudah memaafkanmu.” Sambungku sambil memandang ke arah lain. “Jadi, kamu dan aku masih “kita”, kan?” dia bertanya lagi. Raut wajahnya seakan memohon. Cih! Aku tidak bisa luluh karena hal itu. “Tidak bisa. Aku memaafkan tapi bukan untuk kembali lagi.” Aku menjawab sendu dan tegas agar air mataku tidak jatuh lagi. Kulihat raut wajahnya, dia terlihat sangat kecewa. “Nisa, sebenernya aku dan Mary tidak ada hubungan apa-apa. Orangtua kami yang menjodohkan kami berdua. Aku sudah menolaknya tapi tidak dengan Mary. Dia menerimanya. Aku tahu ini sulit bagi kamu, untuk itulah aku tidak mengatakan apa-apa.” Dia menggenggam tanganku semakin erat dan lebih erat. Aku sudah tidak perduli.
    Seminggu setelah kejadian itu, papa pulang lagi ke rumah. Dia melihatku duduk di atas kursi roda sedang menyiram tanaman. Papa berjalan mendekatiku. Dia tiba-tiba membungkuk dan mengecup kepalaku pelan. Aku sangat kaget. Ada apa dengan papa? Kulihat wajahnya yang sangat lesu. Sepertinya dia kurang tidur. “Nisa, bagaimana kabar kamu? Papa sangat rindu padamu, nak.” Bibirnya terlihat bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Tanpa menunggu jawabanku, papa mengambil watering can yang kupegang dan menaruhnya di sudut taman. “Ayo kita masuk.” Papa mendorong kursi rodaku masuk ke rumah.
   “Ma, mama, papa pulang, ma. Papa kembali.” Teriakku lantang dari arah ruang tamu. Kulihat mama berlari tergopoh-gopoh menemui kami. Wajahnya terlihat terlipat. Wajahnya memerah. Sepertinya mama akan meledak memarahi papa. “KAMU! APA YANG KAMU LAKUKAN DISINI? HAH? BUAT APA KAMU KEMBALI LAGI DI RUMAH INI? Aku tidak sudi melihat wajahmu terpampang lagi di setiap sudut rumah kami. Pokoknya, kamu KELUAR SEKARANG!” Bentak Mama geram. Mama belum pernah terlihat semarah ini. Aku hanya terdiam menatap mereka yang saling bersitegang. Kepalaku panas. Ingin rasanya melerai mereka berdua yang saling membentak. Tapi entah kenapa, suaraku seperti tertahan di tenggorokan. Cukup sudah. Aku tidak tahan lagi.
   Aku yang tadinya berfikir bahwa Papa dan Mama akan segera berbaikan pupus sudah. Malah yang terjadi, Mama menggugat cerai papa atas tuduhan perselingkuhan. Kini, keluargaku sudah tidak lengkap. Ingin ikut Mama, bagaimana dengan Papa? Ingin ikut Papa, lalu bagaimana dengan mama? Seandainya mereka tahu, aku yang justru tertekan di situasi seperti sekarang ini.
    Cobaan rasanya datang bertubi-tubi kepadaku. Mungkin Tuhan sedang memberiku cobaan, atau mungkin sebaliknya karena mungkin saja aku pernah melakukan kesalahan. Ya, orang-orang menyebutnya karma. Tapi seingatku, aku tidak pernah menyakiti siapapun seperti ini. Seluka ini. Sesakit ini.
   Setelah putus dari Zayn, dia masih tetap gencar menemuiku. Sms, telfon darinya tak pernah kugubris sekalipun. Aku masih tidak dapat mengontrol emosiku untuk saat ini terhadap kedua orangtuaku dan Zayn. Aku memang merindukannya. Tapi, aku tidak mau menjadi orang bodoh yang menumpuk luka. Sudah cukup aku sakit begini oleh mereka. Aku harus menjadi perempuan dewasa yang pandai dalam mengambil sikap.
***
    Aku masuk ke laboratorium komputer membawa beberapa keyboard yang disuruh oleh Pak Jihan. Kuamati siswa yang duduk di paling pojok ruangan. Kalau tidak salah lihat, dia Kaisar. Kaisar adalah murid yang terkenal bengal seantero sekolah. Sering membolos, berantem dengan siswa dari sekolah sebelah, dan juga suka menindas adik kelas. Tetapi, dibalik sisi negatifnya itu, dia juga termasuk siswa yang pandai di mata pelajaran Fisika dan Biologi.
      Aku berjalan ke arahnya hendak menyimpan keyboard ke dalam lemari yang berada di samping anak itu. Dia mendongakkan kepala sekilas melirikku dan kembali terpaku ke layar monitor. Aku yang penasaran dengan apa yang dikerjakannya, sengaja berlama-lama. Kulirik layar monitor dan seketika itu juga aku terperanjat. Kaget lebih tepatnya. Aku sekarang tahu sisi positif dari Kaisar yang lain.
     Aku melihat dengan jelas hasil puisi dan karangannya yang sangat bijak. Tidak disangka, anak paling nakal, bengal, edan di sekolah bisa membuat puisi sebagus itu. Aku sampai tidak berkedip saking bagusnya. “Hei, Nisa, kan? Ngapain lo disitu? Sengaja, ya?” Kaisar balik badan melihatku dan mendesah pelan. Aku yang sedang jongkok di samping lemari sampai tergagap. Benar-benar memalukan. Aku hanya tersenyum pahit dan langsung berlari meninggalkannya yang terbengong-bengong.
     Semenjak insiden memalukan yang terjadi di laboratorium itu, Kaisar sering menyapaku dengan panggilan “Gadis Pemalu”. Pada awalnya, aku merasa risih dipanggil dengan sebutan itu. Tapi lama-kelamaan, aku mulai terbiasa. Aku dan Kaisar juga menjadi lebih dekat. Kami dekat melalui social media pada awalnya. Dan semakin kesini, aku semakin membiarkan Kaisar masuk di hidupku. Menjadi teman yang selalu ada untukku.
Ponselku bordering. Satu pesan masuk.
Hai, gadis pemalu.
Aku segera tahu siapa pengirimnya.
Aku mengetik balasan untuknya.
Tahu darimana nomor ponselku, cowok kecap?
SENT
Tak perlu menunggu lama, dia hanya membalasnya selama 2 menit.
Dari Rina. Ngga pp kan? J
    Aku tersenyum-senyum sendiri. Anak ini memang pantang menyerah. Setelah menolak memberikan nomor ponselku, dia akhirnya mendapatkan nomorku dari Rina.         
Iya gpp, smpen ajaJ
       Aku merebahkan diri di kasur setelah mengirim pesan untuknya. Ternyata benar. Don’t judge a book by it’s cover. Sampul memang bisa membodohi.
       Sudah dua bulan aku jarang ngobrol dengan mama. Bukan karena mama sibuk, tapi karena semenjak bercerai, mama jadi lebih pendiam. Aku kadang merasa mama bukan mama yang dulu lagi. Mama seperti sibuk dengan dunianya sendiri. Dan juga, sudah dua bulan ini aku terpuruk oleh sikap mama yang seperti mengacuhkanku. Jika semua orang setuju dengan pepatah “Hari ini akan menjadi hari yang lebih baik dari hari kemarin”, tidak denganku. Pepatah itu sangat jauh dari hidupku yang penuh dengan semrawutan kesedihan.
      Hari ini aku tidak sanggup lagi. Semua orang yang kusayangi satu persatu beranjak pergi. Kondisiku juga semakin memburuk. Kanker otak yang kuderita selama kurang lebih satu tahun membuat kekuatan fisikku menurun drastis. Kugoyangkan kakiku tetapi tidak bisa. Seperti mati rasa. Aku takut. Ada apa denganku? Ku gerakkan lagi, masih tidak bisa. Aku mulai menangis. Rasanya aku seperti lumpuh. “Ya Tuhan, apakah aku lumpuh? Tapi mengapa, Tuhan?” aku masih menangis sambil terisak-isak. “Apakah lumpuh seperti ini?” aku masih tidak mempercayainya. Aku memanggil mama. Mamaku sampai di daun pintu dan melihatku menangis dan kacau seperti sekarang. Mama panik. Kukatakan semua padanya. Aku dilarikan ke rumah sakit.
    Tidak enak rasanya memakai kursi roda. Sangat ribet. Harus didorong kesana kemari. Lebih nyaman jika berjalan menggunakan kaki sendiri. Tapi sudah cukuplah aku mengeluh. Tidak boleh menyalahkan keadaan lagi. Kini, kerjaku hanya memandang halaman rumah sakit. Terdengar langkah kaki mendekat. Kupikir itu Kaisar. Ternyata bukan. Zayn.
  “Zayn, tahu darimana aku ada disini?” aku mendongakkan kepala untuk melihatnya. Zayn tersenyum berlutut di depanku. “Bagaimana kabarmu, Nis? Aku sangat kaget mendengar kalau kamu lumpuh. Aku ikut bersedih, Nis. Seandainya aku ada di sampingmu ketika kamu jatuh.” Zayn menunduk. Matanya mulai basah. Kuangkat dagu Zayn agar melihatku. “Zayn, aku sudah sehat kembali. Sekarang, tak ada yang perlu disesali. Kamu ada disini pun aku sudah sangat senang. Hei, berhenti menangis. Lelaki seperti kamu tidak bagus menangis di hadapan orang banyak. Hei, banyak orang yang ngeliatin kamu, lho. Aku sudah baik sekarang, Zayn” aku sudah mulai tertawa. Zayn juga ikut tertawa melihatku.
            ***
  Berita yang sangat mengejutkanku tiba pagi ini. Zayn meninggal. Itu yang kudengar dari Rina. Dia mengalami kecelakaan tadi pagi di dekat sekolah. Dia ditabrak oleh pengendara motor yang ugal-ugalan. Aku menjerit sambil menangis sejadi-jadinya. “Zaaayyynnnn!!!!!!!!!!! Zaa..yyynnn!!!” Aku sudah tak kuasa membendung air mataku. Zayn kini sudah pergi jauh. Sangat sulit untuk mengihklaskannya. “Tuhan, apalagi sekarang? Aku tidak kuat, Tuhan. Sungguh, aku tidak kuat.” Aku menangis meronta-ronta hingga terjatuh di atas kursi roda. Kaisar yang melihatku membantu agar aku bisa duduk kembali ke kursi roda. Dia menenangkan perasaanku yang sangat kacau balau. “Aku tahu susah untuk kamu ngeikhlasin dia. Tapi, ini sudah takdir, Nis. Ini sudah ketetapan yang Maha Kuasa. Kita hanya bisa nrimo dan ikhlas nerimanya.” Aku membiarkan Kaisar di sampingku. Setidaknya, aku tidak sendirian menghadapi ini. Aku sudah tidak tahan lagi. Mataku berkunang-kunang. Aku ambruk.
   Tiga tahun aku bersedih karena kepergian Zayn. Dan tiga tahun itu juga Kaisar yang selalu menemaniku. Kini kami berdua kuliah di universitas yang sama. Kaisar juga menjadi penjagaku yang paling menyayangiku. Hingga pada suatu hari, Kaisar mengutarakan maksud hatinya kepadaku.
   “Nisa, kamu masih sayang dan cinta sama Zayn?”
   Itu pertanyaan yang tak kuduga. Aku hanya menelan ludah. Tak sanggup harus menjawab apa. Tanpa kujawab pun, Kaisar pasti tahu jawabanku.
  “Bilang saja, Nisa. Jujurlah. Aku ingin mendengarnya dari mulutmu sendiri.” Raut wajah Kaisar terlihat murung. Aku tidak tega melihatnya.
    “Aku rindu Zayn. Aku masih sayang dia.” Aku menjawab pelan-pelan.
“Nis, sejujurnya aku mau menjadi pengganti Zayn di hatimu jika kamu membutuhkan orang lain.” Kaisar mengangguk dan menggenggam jemariku.  “Maksud kamu? Aku tidak mengerti, Sar.”
     “Maukah kamu menikah denganku, Nisa? Menjadi pendampingku untuk selamanya?”
     “Ka, kamu serius, Sar?” aku sangat kaget mendengarnya.”
    “Iya, aku tidak pernah seserius ini, kan?” Kaisar tersenyum memandangku. Aku ragu-ragu tapi setelah berpikir lama, akhirnya aku mengangguk. Hanya Kaisar yang setia padaku selama beberapa tahun ini. Dia sangat baik dan memperhatikanku. Aku tidak bisa menolaknya. “Baiklah, aku menerimanya.” Aku mengangguk lalu membalas  genggaman tangannya. “Kamu serius, Nis?” Kaisar bertanya lagi. Aku menjawabnya dengan mengangguk.
***
    Akhirnya, kini aku percaya terhadap pepatah “Hari ini akan menjadi hari yang lebih baik dari hari kemarin”. Perlahan tapi pasti, kebahagiaan sudah mulai menyelimutiku. Hari ini, pernikahanku akan berlangsung. Kaisar akan menjadi suamiku. Hari ini adalah hari yang paling kutunggu-tunggu di dalam hidupku. Hari dimana aku bersanding dengan kekasih yang akan mendampingiku selamanya.
     Tanggal 25 Maret 2014, hari yang paling bersejarah. Hari ini juga menjadi hari terakhir kali aku melihat Kaisar. Aku pasti akan merindukan kasihnya di sisiku. Sungguh, aku ingin terus bersamanya. Dan sekarang aku paham. Terhadap Zayn, aku mengenal ketakutan roller coaster yang menghantuiku. Semenjak mengenal Kaisar, ketakutan akan roller coasterku menjadi hilang dan digantikan oleh kebahagiaan. Kaisar akan selalu menjadi roller coasterku yang sejati. Ternyata bukan roller coaster yang membuatku takut, tapi perpisahan.

"Aku ( BUKAN ) Pemberi Harapan Palsu"

Sengsaranya jadi aku. Semua orang mengatakan akulah perempuan paling jahat. Mengapa? Oh ternyata mereka mengira bahwa aku tidak memberi kepastian kepada lelaki itu. Sardi terus memintaku menerima ajakannya untuk menikah. Padahal, dari dulu aku memang tidak pernah mencintainya. Dia menuduhku bohong dan mengatakan bahwa tidak ada dua insan yang sangat dekat lalu mereka tidak mempunyai perasaan sama sekali. Aku tidak setuju. Aku buktinya. Tidak pernah jatuh hati kepada Sardi sekalipun. Dan juga, dekat tidak berarti cinta, kan? Kepala Sardi mungkin sudah penuh dengan sarang laba-laba sehingga ia tidak bisa berpikir jernih. Toh, aku dekat sama siapapun. Bos di kantor, mantri desa, pemuda jalang yang sering apel ke rumahku hanya untuk sekedar berbincang-bincang dengan kak Rani juga salah satunya. Lalu? Sardi mengira bahwa aku sengaja memberikannya harapan lebih? Hufft... Itulah yang membuat teman sekantorku (teman sekantornya juga) menodongku dengan berbagai pertanyaan menyelidik. Juga tuduhan yang beragam yang membuat kupingku panas. Dituduh perempuan penggodalah, pemilihlah, hanya mengincar bos-bos kaya, dan sebagainya. Sardi pasti biang keladinya. Dia selalu memberiku bunga di depan teman-teman kantor. Itu yang membuat mereka jadi tak tega jika aku menolak Sardi. Sekarang lagi, mengajakku menikah. Aku sudah pasti menolak. Aku masih ingin berkarir dan melakukan hidup yang santai. Salahkah? Aku pikir caraku sudah benar dalam berteman. Dia saja yang terlalu menggantungkan harapan. Lalu apa peduliku? Dulu, sekali dua kali aku masih peduli dengan perasaannya. Sekarang aku sudah bosan. Sardi tidak berubah dan tetap mengejarku. Emangnya aku maling ayam, apa? Kadang dia datang ke rumah membawakanku cokelat, bunga, dan kado yang hanya kujadikan pajangan di sudut kamar. Aku capek menyuruhnya berhenti mengejarku. Dan lebih capek lagi jika aku mendengar ocehan teman kerjaku yang sibuk menggosipiku. Sudahlah, julukan sebagai perempuan pemberi harapan palsu kini melekat di keningku. Aku tak mau ambil pusing. Selama hal itu tidak benar dan tidak berdampak buruk untuk hidupku, akan ku biarkan berlalu begitu saja.

Senin, 12 Mei 2014

Kepastian

Aku menyimpannya. Menyimpannya selama 8 bulan lamanya. Menahan setiap sakitku dan tiap luruh tangisku. Tapi mengapa entah semakin sulit saja rasanya. Tiap menatapmu, nafasku selalu seperti tercekat di kerongkongan. Aku selalu menatap indah dirimu. Namun, hanya saja kau selalu meremehkanku. Meremehkan tiap helai perasaanku. Aku juga punya hati. Apakah aku harus memberitahumu segalanya? Segala yang tersirat ,dan segala yang ku bungkam? Jujur saja, aku masih ingin menatapmu berlama-lama. Aku masih ingin melihat lekuk senyum dan wajahmu. Namun semuanya membuat sakit batinku. Apakah aku hanya suatu persinggahan saat kamu tak mempunyai pelarian? Apakah aku hanya salah satu alat yang bisa kamu permainkan? Aku juga punya hati sama seperti dirimu. Memang benar hati manusia berbeda-beda. Namun hanya satu yang kuyakini. Hatiku lebih tulus darimu. Aku lebih setia menunggumu walaupun kamu tak kunjung datang. Kamu bahkan memilih dia. Tapi apakah kamu tulus mencintainya? Ataukah dia akan berakhir seperti aku? Kamu tidak sejahat itu kan? Kamu hanya jahat terhadapku kan? Jangan. Jangan sakiti dia lagi. Cukup aku saja. Jika memang dia adalah pilihan yang kamu inginkan, jaga dia baik-baik. Setialah. Cukup itu yang aku minta dari kamu. Takkan ada permintaan lain.

Kini, aku menyendiri di ruang kosong yang jauh di lubuk hatiku. Mengapa orang yang tulus mencintai justru akan menjadi orang yang di korbankan perasaannya? Kedengarannya itu sangat jahat. Tapi itulah yang terjadi. Lalu? Aku harus berbuat apa? Apakah aku harus datang kepadanya lalu meminta dia membalas perasaanku? Tentu tidak. Aku sudah tahu dari awal konsekuensi dari tiap langkah yang aku jejaki sebagai perjuanganku. Aku tahu akan ada dua jawaban pada akhirnya. Dan sekarang, jawabannya yaitu tidak. Apakah kamu bangga telah menolakku? Apakah dihadapanmu aku sudah tak ada harganya lagi? Kamu salah. Sangat salah. Justru dimataku lah kamu yang sudah tidak ada artinya lagi. Kamu buta akan sebuah kejujuran. Kamu buta dan tidak melihat siapa perempuan yang rela berkorban untukmu. Kamu tahu kan bahwa tak ada ketulusan tanpa pengorbanan? Lalu? Mengapa kamu memilihnya? Apa hanya karna kamu mencintainya? Jadi kamu memilih orang yang kamu cintai daripada orang yang mencintaimu? Nah, kamu memang begitu. Kamu selalu menatap yang itu-itu saja. Seakan tak ada lagi yang dapat kamu pilih menjadi yang terbaik. Dia saja tak memperdulikanmu. Apakah itu sebuah karma untukmu? Aku tak ingin itu. Aku tak meminta agar kamu merasakan apa yang kurasakan. Tapi itu sudah takdir. Karma adalah suatu cara yang akan membuka matamu lebar-lebar. Kamu saja belum menyatakan kepadanya namun dia sudah memberikanmu satu kata. TIDAK. Itu kan yang dia katakan? Bagaimana rasanya? Sakitkan? Kamu saja yg belum berkorban banyak sudah merasakan sakitnya. Bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan delapan bulan itu? Katakan saja bagaimana rasanya. Aku takkan menertawakanmu. Aku yang akan gundah jika kamu juga merasakan hal yang sama. Sakit. Pahit segalanya yang akan kamu rasakan. Kepastian yang kunanti selama ini ternyata hanya berujung pahit. Memang salahku sendiri yang mengharapkan balasan darimu. Kenapa aku yang merasakan mati karna mencintaimu? Mengapa harus aku sendiri? Tak maukah kamu datang kepadaku dan memberikan senyumanmu lagi? Aku hanya butuh itu. Aku sudah katakan takkan meminta apapun lagi darimu. Bahagialah bersama dia. Jangan khawatirkan aku. Aku pasti bisa mengobati lukaku sendiri, dengan atau tanpa kamu disini.