Kuukir lembaran sajak yang telah usang. Terputar rona merah
membaca kenangan lama yang gemerisik. Menyayat hingga ke tulang-tulang. Aku
harus apa saat kujamah bekas tanganmu yang basah? Beriring manja dengan desahan
nafas kekasihmu. Kau hapus air matanya seolah kau menghapus bayanganku dulu.
Sajak yang telah usang kembali memperingatkan. Harusnya kulupakan saja
tangannya yang basah. Bibirnya yang manis dan kerlingan matanya saat dalam
cahaya redup. Kubuka lagi halaman sajak yang bisu itu sesembari menemukan
potongan hati yang lama. Potongan yang berdebu dan termakan rayap. Potongan
yang sebenarnya enggan untuk kusentuh kembali.
Sajak telah berorientasi. Dari kelabang menjadi kupu-kupu.
Ingatan yang benarnya telah terkubur, aslinya datang dan mengundang malapetaka.
Pipi yang tadinya berwarna merah menjadi kian merah bercampur aduk dengan
emosi. Kuraba bekas tanganmu kembali dalam sejak itu. Terasa memilukan, kembali
menyayat, perih. Tercetak rapi bekas tinta pena yang kau gunakan. Mirisnya
terasa hingga rongga dada. Bukan benar tanganmu yang kuraba. Bukan benar
bibirmu yang kukecup, melainkan hanya sajak jahannam yang benar-benar
bermetamorfosis. Kesannya sedemikian berbeda, berubah dari yang terdahulu.
Sajak yang kini telah dipenuhi bekas luka sayatan disana sini. Lantas, akan
kuapakan sajak itu?
Kembali lagi kubaca sajak selanjutnya. Benar-benar sajak
jahannam. Tak hentinya malaikat dalam kepala menyuruh agar berhenti, namun
iblis masih terus merasuki. Menyuruh agar melanjutkan sajak demi sajak yang kau
tulis. Sial benar nasib sang wanita. Ditinggal pergi diwasiatkan hanya tiga
lembar sajak. Apa yang kau harapkan?
Berhektar-hektar luka yang kau tinggal untuk sang wanita.
Akupun heran mengapa dia masih saja membaca sajak yang kau tulis? Lelaki
jahannam. Harusnya, paling tidak tinggalkan dia seikat bunga sebagai permintaan
maaf. Bukan tiga lembar sajak yang hanya membawa paham-paham baru. Kau buat dia
lambat laun pikun akan luka yang kau tabur. Kau sengaja meninggalkan sajak yang
tak berkepentingan itu di dalam fikiran sang wanita. Betapa jahannam! Harus
berapa kali kuulangi?