Minggu, 25 September 2016

Goresan Gloomy #2


          Kuukir lembaran sajak yang telah usang. Terputar rona merah membaca kenangan lama yang gemerisik. Menyayat hingga ke tulang-tulang. Aku harus apa saat kujamah bekas tanganmu yang basah? Beriring manja dengan desahan nafas kekasihmu. Kau hapus air matanya seolah kau menghapus bayanganku dulu. Sajak yang telah usang kembali memperingatkan. Harusnya kulupakan saja tangannya yang basah. Bibirnya yang manis dan kerlingan matanya saat dalam cahaya redup. Kubuka lagi halaman sajak yang bisu itu sesembari menemukan potongan hati yang lama. Potongan yang berdebu dan termakan rayap. Potongan yang sebenarnya enggan untuk kusentuh kembali.
          Sajak telah berorientasi. Dari kelabang menjadi kupu-kupu. Ingatan yang benarnya telah terkubur, aslinya datang dan mengundang malapetaka. Pipi yang tadinya berwarna merah menjadi kian merah bercampur aduk dengan emosi. Kuraba bekas tanganmu kembali dalam sejak itu. Terasa memilukan, kembali menyayat, perih. Tercetak rapi bekas tinta pena yang kau gunakan. Mirisnya terasa hingga rongga dada. Bukan benar tanganmu yang kuraba. Bukan benar bibirmu yang kukecup, melainkan hanya sajak jahannam yang benar-benar bermetamorfosis. Kesannya sedemikian berbeda, berubah dari yang terdahulu. Sajak yang kini telah dipenuhi bekas luka sayatan disana sini. Lantas, akan kuapakan sajak itu?
Kembali lagi kubaca sajak selanjutnya. Benar-benar sajak jahannam. Tak hentinya malaikat dalam kepala menyuruh agar berhenti, namun iblis masih terus merasuki. Menyuruh agar melanjutkan sajak demi sajak yang kau tulis. Sial benar nasib sang wanita. Ditinggal pergi diwasiatkan hanya tiga lembar sajak. Apa yang kau harapkan?
          Berhektar-hektar luka yang kau tinggal untuk sang wanita. Akupun heran mengapa dia masih saja membaca sajak yang kau tulis? Lelaki jahannam. Harusnya, paling tidak tinggalkan dia seikat bunga sebagai permintaan maaf. Bukan tiga lembar sajak yang hanya membawa paham-paham baru. Kau buat dia lambat laun pikun akan luka yang kau tabur. Kau sengaja meninggalkan sajak yang tak berkepentingan itu di dalam fikiran sang wanita. Betapa jahannam! Harus berapa kali kuulangi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar