Ku pandangi
benda besar yang bergerak di depanku. Benda tersebut membuat tengkukku semakin
merinding. Aneh saja, semakin banyak orang yang ingin mencobanya. Jujur, aku
takut naik roller coaster. Permainan
ini hanya akan membuat jantungku berlari kencang. Aku menelan ludah sekali
lagi. Cowok di sebelahku menggandeng tanganku erat. Seperti tahu bahwa sekarang
aku sedang ketakutan.
“Sa,
kalau takut banget ngga usah dipaksain, kok. Aku lihat muka kamu daritadi pucet
banget. Aku kasian liatnya. Cowok di sampingku menarik tanganku untuk segera
menjauhi roller coaster itu. “Aku
tidak kenapa-napa, Zayn. Aku cuma ngeliat ekspresi wajah mereka, teriakan
mereka, persis seperti teriakan mama dulu sewaktu dipukuli oleh papaku. Tapi
bedanya karena mereka berteriak karena bahagia.” Aku menjawab sendu kemudian
duduk di bangku tak jauh dari situ. Zayn mengangguk seakan mengerti. Dia
mengikutiku dan duduk di sampingku. Kekasihku ini adalah orang indo. Ayahnya
adalah orang Jerman dan ibunya adalah wanita Yogyakarta. Aku memperhatikan
wajahnya. Apakah Zayn paham bagaimana rasanya memiliki keluarga broken home? Ku
amati wajahnya yang sedang berusaha menyembunyikan kecemasannya. Dia sepertinya
mengetahui bahwa aku sedang memperhatikannya. Dia menoleh kemudian mengulas
senyum tipis. Aku lega, Zayn tahu sedikit lukaku.
Kemarin,
di sekolah ada seorang siswi baru pindahan dari Belanda. Namanya Alicia Mary.
Aku mengetahuinya dari teman kelasku, Rani, yang sangat up to date terhadap hal
seperti itu. Ternyata Mary juga sekelas dengan Zayn. Aku merasa tidak enak jika
Zayn sekelas dengan gadis itu. Entah mengapa, gadis itu sepertinya baik dan
sangat… cantik. Jika dibandingkan denganku aku tidak ada apa-apanya. Parasnya
yang cantik berbanding lurus dengan lekuk tubuhnya yang indah. Aku tiba-tiba
diterpa kecemasan. Aku takut jika Zayn berpaling dariku. Aku tak mengerti
kenapa tiba-tiba saja aku memikirkan hal yang tidak beralasan seperti itu. Aku
menggeleng kuat-kuat. Tidak, Zayn adalah milikku.
***
Praaang!!
Terdengar lagi suara guci dibanting dari dalam rumahku. Aku yang tadinya sudah
memegang gagang pintu akhirnya terdiam membeku. Haruskah aku masuk? Pikirku.
Tidak. Tapi bagaimana dengan mama? Akhirnya setelah menghembuskan nafas berkali-kali
untuk menenangkan hatiku yang berkecamuk, aku memutuskan untuk masuk.
“Kamu
jaga saja anakmu yang tidak tahu diri itu! Dasar wanita sialan! Kamu tidak tahu
bagaimana capeknya mencari uang, HAH? Jangan menuduh yang macam-macam kamu!”
bentak papa terhadap mama. Aku segera menghambur ke pelukan mama. Papa
melayangkan tangannya ke udara hendak menampar mama. “Lakuin, pa! Lakukanlah
semau papa!” aku berteriak tertahan tak sanggup apa-apa. Mama memelukku erat
sambil berurai air mata. “Apa belum puas papa menyakiti hati mama? Kenapa
sekarang papa berani sakiti fisik mama? Papa benar-benar bukan papa yang dulu
lagi!” bentakku kesal kepada papa. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku
sesenggukan melihat wajah mama yang lebam. Aku memegang pipi mama yang sudah
berdarah dihantam papa. “Mama baik-baik saja, sayang.” Mama memelukku semakin
erat. Kulihat papa yang sedang mondar-mandir di hadapan kami sambil memegangi
kepalanya. “Kalian! Kalian memang tidak tahu berterima kasih! Dan kamu Nisa,
jaga wanita itu baik-baik. Aku sudah muak melihatnya. Jangan sampai aku
menamparnya lagi.” Papa berbalik melangkah keluar sesembari membanting pintu.
Aku menenangkan mama yang masih memelukku. “Tenang, Ma. Jangan nangis. Masih
ada Nisa yang setia ngejagain mama.” Aku menepis air mata mama dan
menyunggingkan senyuman.
Hari
ini, rencananya aku akan pergi ke taman bersama Zayn. Tapi, dia mendadak tidak
bisa. Katanya sibuk. Aku kecewa. Sudah dua kalinya dia tak ada di sampingku
saat ku membutuhkannya. Aku merasa
sangat sedih saat ini. Dan untuk
menghibur hatiku, aku memutuskan untuk pergi ke toko buku.
Aku
sedang berjalan di rak buku novel-novel teen-lit saat kulihat sepasang sejoli,
eh tidak, maksudku sepasang teman sedang bergurau sambil menunjuk buku yang
dipegang oleh si lelaki. Zayn nampaknya tidak risih berada di dekat Mary. Dan
tiba-tiba Zayn mengacak rambut ikal Mary. Aku segera naik pitam. Zayn sudah
membohongiku. Aku tidak menyangka dia tega membohongiku demi bertemu dengan
Alice. Hatiku panas dan sebelum aku meledak di depan mereka, aku mengembalikan
buku yang kupegang ke rak semula dan berlari keluar. Pulang.
Orang-orang
yang berjalan di sekitarku saling berbisik-bisik. Mungkin karena melihat
perempuan tolol sepertiku sedang menangis. Aku sangat ingin menahannya tapi tak
bisa. Bergegas kupercepat langkahku. Tanganku mulai mengepal marah. Semua
laki-laki di dunia ini sama saja. Mereka pembohong dan brengsek!. Dan karena
ketololanku hingga aku jatuh di kubang lumpur yang sudah dibuat sedemikian
sempurna oleh Zayn. Aku benar-benar benci dibohongi. Aku juga benci Zayn!
***
Aku
memainkan ponselku selama berjam-jam. Yang tidak kumengerti, mengapa aku
melakukannya. Sebuah pesan masuk tertera di layar ponselku. Kulihat nama
pengirimnya. MY ZAYN.
Malam sayang. Kamu lg apa? Kok ngga ada kabar?
Aku memutuskan
untuk tidak menggubrisnya. 10 menit kemudian, satu sms masuk lagi.
Nisanya aku, km udah tidur yaa?
Aku muak dengan
kicauannya. Aku membalasnya sinis.
Belum tidur.
SENT.
Ponselku berdering
lagi.
Balesnya kok gt? Kamu capek say?
Aku
melempar hapeku ke kasur. Saat ini aku sedang tidak ingin berdebat. Aku masih
marah. Aku belum bisa memaafkannya.
***
Zayn
menghampiriku di kelas. Aku hanya terdiam dan tak memperdulikan kedatangannya.
Dia duduk di sampingku. “Hai, Nis.” Katanya. Aku hanya memandangnya sinis
kemudian melempar pandangan ke arah jendela. Dia sepertinya menyadari sikapku.
“Nis, kamu kenapa, sih? Kok kayaknya lagi kesel gitu?” Zayn mengambil tangan
kiriku dan menggenggamnya. Aku menarik tanganku. Dia memegang pundakku dan
berusaha membuatku memandangnya. Aku mendesah pelan. “Kita sudah cukup sampai
disini.” Aku langsung to the point. “Maksud
kamu?” dia bertanya hal-hal yang membuatku geram. “Kamu sudah bohong! PUAS? Aku
tidak mau punya pacar seorang pembohong! Kamu memang seperti papa! Semuanya
bikin aku marah!’ aku tidak bisa menahan emosiku kini. Zayn memandangku tidak
mengerti. Seperti butuh penjelasan, akhirnya aku mengutarakan semuanya. ‘Kamu,
kamu tega bohongin aku hanya untuk jalan dengan dia. Kamu tahu, kan kalau aku
benci kebohongan. Binatang yang bernama kebohongan itu juga yang menghancurkan
keluargaku. Dan sekarang, menghancurkan kita dan semuanya salahmu!” Aku
berteriak di depan wajahnya. Air mataku mulai tak terbendung. Aku menahannya
sebisa mungkin agar tidak terjatuh. Mungkin saat ini aku sangat
kekanak-kanakan. Tapi, aku tidak mau kejadian yang menimpa mama menimpaku juga.
Air mataku luruh menetes. “Nisa, ka-kamu nangis?” aku menunduk tak sanggup
melihat matanya. “Yang kamu maksud apa? Maksud kamu Mary?” dia bertanya sambil
menyapu air mataku. Kutepis tangannya untuk tidak menyentuhku. “Mary itu cuma..
cuma…” Zayn tidak meneruskan kalimatnya. Aku sangat marah. Rasanya aku ingin
berteriak sekencang-kencangnya saat ini. Tidak mungkin Zayn selingkuh dariku.
“Cukup! Terserahlah, mau Alice, Mary, atau siapalah namanya, aku tidak perduli.
Kamu bahkan tidak bisa menjelaskannya, Zayn. Aku tidak menyangka begitu tega
kamu sama aku.” Aku menangis terisak. Aku berlari keluar tetapi kepalaku terasa
pusing dan badanku terhuyung akan jatuh. Dan akhirnya aku sudah tidak kuat
menopang tubuhku. Aku pingsan.
***
“Nisa,
ini aku. Bangunlah.” Aku sayup-sayup mendengar suara Zayn. Aku perlahan-lahan
membuka mataku. Kuperhatikan ruangan tempatku berbaring. Aku sedang di rumah
sakit. Nampaknya sakitku kambuh lagi. Mataku berhenti pada seorang lelaki yang
duduk di sampingku. Aku tidak ingin memandangnya. Nampaknya lukaku masih sakit
seperti tadi pagi. “Aku tahu kamu marah, Nisa. Maafin aku, sayang.” Dia
memegang tanganku lembut. Aku membiarkan tanganku digenggam olehnya. Aku saat
ini sedang tidak ingin berdebat. “Aku tidak ingin membahas itu lagi.” Kataku.
“Dan, aku sudah memaafkanmu.” Sambungku sambil memandang ke arah lain. “Jadi,
kamu dan aku masih “kita”, kan?” dia bertanya lagi. Raut wajahnya seakan
memohon. Cih! Aku tidak bisa luluh karena hal itu. “Tidak bisa. Aku memaafkan
tapi bukan untuk kembali lagi.” Aku menjawab sendu dan tegas agar air mataku
tidak jatuh lagi. Kulihat raut wajahnya, dia terlihat sangat kecewa. “Nisa,
sebenernya aku dan Mary tidak ada hubungan apa-apa. Orangtua kami yang
menjodohkan kami berdua. Aku sudah menolaknya tapi tidak dengan Mary. Dia
menerimanya. Aku tahu ini sulit bagi kamu, untuk itulah aku tidak mengatakan
apa-apa.” Dia menggenggam tanganku semakin erat dan lebih erat. Aku sudah tidak
perduli.
Seminggu
setelah kejadian itu, papa pulang lagi ke rumah. Dia melihatku duduk di atas
kursi roda sedang menyiram tanaman. Papa berjalan mendekatiku. Dia tiba-tiba
membungkuk dan mengecup kepalaku pelan. Aku sangat kaget. Ada apa dengan papa?
Kulihat wajahnya yang sangat lesu. Sepertinya dia kurang tidur. “Nisa,
bagaimana kabar kamu? Papa sangat rindu padamu, nak.” Bibirnya terlihat
bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Tanpa menunggu jawabanku, papa mengambil
watering can yang kupegang dan menaruhnya di sudut taman. “Ayo kita masuk.”
Papa mendorong kursi rodaku masuk ke rumah.
“Ma,
mama, papa pulang, ma. Papa kembali.” Teriakku lantang dari arah ruang tamu.
Kulihat mama berlari tergopoh-gopoh menemui kami. Wajahnya terlihat terlipat.
Wajahnya memerah. Sepertinya mama akan meledak memarahi papa. “KAMU! APA YANG
KAMU LAKUKAN DISINI? HAH? BUAT APA KAMU KEMBALI LAGI DI RUMAH INI? Aku tidak
sudi melihat wajahmu terpampang lagi di setiap sudut rumah kami. Pokoknya, kamu
KELUAR SEKARANG!” Bentak Mama geram. Mama belum pernah terlihat semarah ini.
Aku hanya terdiam menatap mereka yang saling bersitegang. Kepalaku panas. Ingin
rasanya melerai mereka berdua yang saling membentak. Tapi entah kenapa, suaraku
seperti tertahan di tenggorokan. Cukup sudah. Aku tidak tahan lagi.
Aku
yang tadinya berfikir bahwa Papa dan Mama akan segera berbaikan pupus sudah.
Malah yang terjadi, Mama menggugat cerai papa atas tuduhan perselingkuhan.
Kini, keluargaku sudah tidak lengkap. Ingin ikut Mama, bagaimana dengan Papa?
Ingin ikut Papa, lalu bagaimana dengan mama? Seandainya mereka tahu, aku yang
justru tertekan di situasi seperti sekarang ini.
Cobaan
rasanya datang bertubi-tubi kepadaku. Mungkin Tuhan sedang memberiku cobaan,
atau mungkin sebaliknya karena mungkin saja aku pernah melakukan kesalahan. Ya,
orang-orang menyebutnya karma. Tapi seingatku, aku tidak pernah menyakiti
siapapun seperti ini. Seluka ini. Sesakit ini.
Setelah
putus dari Zayn, dia masih tetap gencar menemuiku. Sms, telfon darinya tak
pernah kugubris sekalipun. Aku masih tidak dapat mengontrol emosiku untuk saat
ini terhadap kedua orangtuaku dan Zayn. Aku memang merindukannya. Tapi, aku
tidak mau menjadi orang bodoh yang menumpuk luka. Sudah cukup aku sakit begini
oleh mereka. Aku harus menjadi perempuan dewasa yang pandai dalam mengambil
sikap.
***
Aku
masuk ke laboratorium komputer membawa beberapa keyboard yang disuruh oleh Pak Jihan. Kuamati siswa yang duduk di
paling pojok ruangan. Kalau tidak salah lihat, dia Kaisar. Kaisar adalah murid
yang terkenal bengal seantero sekolah. Sering membolos, berantem dengan siswa
dari sekolah sebelah, dan juga suka menindas adik kelas. Tetapi, dibalik sisi
negatifnya itu, dia juga termasuk siswa yang pandai di mata pelajaran Fisika
dan Biologi.
Aku
berjalan ke arahnya hendak menyimpan keyboard
ke dalam lemari yang berada di samping anak itu. Dia mendongakkan kepala
sekilas melirikku dan kembali terpaku ke layar monitor. Aku yang penasaran
dengan apa yang dikerjakannya, sengaja berlama-lama. Kulirik layar monitor dan
seketika itu juga aku terperanjat. Kaget lebih tepatnya. Aku sekarang tahu sisi
positif dari Kaisar yang lain.
Aku
melihat dengan jelas hasil puisi dan karangannya yang sangat bijak. Tidak
disangka, anak paling nakal, bengal, edan di sekolah bisa membuat puisi sebagus
itu. Aku sampai tidak berkedip saking bagusnya. “Hei, Nisa, kan? Ngapain lo
disitu? Sengaja, ya?” Kaisar balik badan melihatku dan mendesah pelan. Aku yang
sedang jongkok di samping lemari sampai tergagap. Benar-benar memalukan. Aku
hanya tersenyum pahit dan langsung berlari meninggalkannya yang
terbengong-bengong.
Semenjak
insiden memalukan yang terjadi di laboratorium itu, Kaisar sering menyapaku
dengan panggilan “Gadis Pemalu”. Pada awalnya, aku merasa risih dipanggil
dengan sebutan itu. Tapi lama-kelamaan, aku mulai terbiasa. Aku dan Kaisar juga
menjadi lebih dekat. Kami dekat melalui social
media pada awalnya. Dan semakin kesini, aku semakin membiarkan Kaisar masuk
di hidupku. Menjadi teman yang selalu ada untukku.
Ponselku bordering. Satu pesan
masuk.
Hai, gadis pemalu.
Aku segera tahu siapa
pengirimnya.
Aku mengetik balasan untuknya.
Tahu darimana nomor ponselku, cowok kecap?
SENT
Tak perlu menunggu lama, dia
hanya membalasnya selama 2 menit.
Dari Rina. Ngga pp kan? J
Aku
tersenyum-senyum sendiri. Anak ini memang pantang menyerah. Setelah menolak
memberikan nomor ponselku, dia akhirnya mendapatkan nomorku dari Rina.
Iya gpp, smpen ajaJ
Aku
merebahkan diri di kasur setelah mengirim pesan untuknya. Ternyata benar. Don’t judge a book by it’s cover. Sampul
memang bisa membodohi.
Sudah
dua bulan aku jarang ngobrol dengan mama. Bukan karena mama sibuk, tapi karena
semenjak bercerai, mama jadi lebih pendiam. Aku kadang merasa mama bukan mama
yang dulu lagi. Mama seperti sibuk dengan dunianya sendiri. Dan juga, sudah dua
bulan ini aku terpuruk oleh sikap mama yang seperti mengacuhkanku. Jika semua
orang setuju dengan pepatah “Hari ini akan menjadi hari yang lebih baik dari
hari kemarin”, tidak denganku. Pepatah itu sangat jauh dari hidupku yang penuh
dengan semrawutan kesedihan.
Hari
ini aku tidak sanggup lagi. Semua orang yang kusayangi satu persatu beranjak
pergi. Kondisiku juga semakin memburuk. Kanker otak yang kuderita selama kurang
lebih satu tahun membuat kekuatan fisikku menurun drastis. Kugoyangkan kakiku
tetapi tidak bisa. Seperti mati rasa. Aku takut. Ada apa denganku? Ku gerakkan
lagi, masih tidak bisa. Aku mulai menangis. Rasanya aku seperti lumpuh. “Ya
Tuhan, apakah aku lumpuh? Tapi mengapa, Tuhan?” aku masih menangis sambil
terisak-isak. “Apakah lumpuh seperti ini?” aku masih tidak mempercayainya. Aku
memanggil mama. Mamaku sampai di daun pintu dan melihatku menangis dan kacau
seperti sekarang. Mama panik. Kukatakan semua padanya. Aku dilarikan ke rumah
sakit.
Tidak
enak rasanya memakai kursi roda. Sangat ribet. Harus didorong kesana kemari.
Lebih nyaman jika berjalan menggunakan kaki sendiri. Tapi sudah cukuplah aku
mengeluh. Tidak boleh menyalahkan keadaan lagi. Kini, kerjaku hanya memandang
halaman rumah sakit. Terdengar langkah kaki mendekat. Kupikir itu Kaisar.
Ternyata bukan. Zayn.
“Zayn,
tahu darimana aku ada disini?” aku mendongakkan kepala untuk melihatnya. Zayn
tersenyum berlutut di depanku. “Bagaimana kabarmu, Nis? Aku sangat kaget
mendengar kalau kamu lumpuh. Aku ikut bersedih, Nis. Seandainya aku ada di
sampingmu ketika kamu jatuh.” Zayn menunduk. Matanya mulai basah. Kuangkat dagu
Zayn agar melihatku. “Zayn, aku sudah sehat kembali. Sekarang, tak ada yang
perlu disesali. Kamu ada disini pun aku sudah sangat senang. Hei, berhenti
menangis. Lelaki seperti kamu tidak bagus menangis di hadapan orang banyak.
Hei, banyak orang yang ngeliatin kamu, lho. Aku sudah baik sekarang, Zayn” aku
sudah mulai tertawa. Zayn juga ikut tertawa melihatku.
***
Berita
yang sangat mengejutkanku tiba pagi ini. Zayn meninggal. Itu yang kudengar dari
Rina. Dia mengalami kecelakaan tadi pagi di dekat sekolah. Dia ditabrak oleh
pengendara motor yang ugal-ugalan. Aku menjerit sambil menangis sejadi-jadinya.
“Zaaayyynnnn!!!!!!!!!!! Zaa..yyynnn!!!” Aku sudah tak kuasa membendung air
mataku. Zayn kini sudah pergi jauh. Sangat sulit untuk mengihklaskannya.
“Tuhan, apalagi sekarang? Aku tidak kuat, Tuhan. Sungguh, aku tidak kuat.” Aku
menangis meronta-ronta hingga terjatuh di atas kursi roda. Kaisar yang
melihatku membantu agar aku bisa duduk kembali ke kursi roda. Dia menenangkan
perasaanku yang sangat kacau balau. “Aku tahu susah untuk kamu ngeikhlasin dia.
Tapi, ini sudah takdir, Nis. Ini sudah ketetapan yang Maha Kuasa. Kita hanya
bisa nrimo dan ikhlas nerimanya.” Aku membiarkan Kaisar di sampingku.
Setidaknya, aku tidak sendirian menghadapi ini. Aku sudah tidak tahan lagi.
Mataku berkunang-kunang. Aku ambruk.
Tiga
tahun aku bersedih karena kepergian Zayn. Dan tiga tahun itu juga Kaisar yang
selalu menemaniku. Kini kami berdua kuliah di universitas yang sama. Kaisar
juga menjadi penjagaku yang paling menyayangiku. Hingga pada suatu hari, Kaisar
mengutarakan maksud hatinya kepadaku.
“Nisa,
kamu masih sayang dan cinta sama Zayn?”
Itu
pertanyaan yang tak kuduga. Aku hanya menelan ludah. Tak sanggup harus menjawab
apa. Tanpa kujawab pun, Kaisar pasti tahu jawabanku.
“Bilang
saja, Nisa. Jujurlah. Aku ingin mendengarnya dari mulutmu sendiri.” Raut wajah
Kaisar terlihat murung. Aku tidak tega melihatnya.
“Aku
rindu Zayn. Aku masih sayang dia.” Aku menjawab pelan-pelan.
“Nis, sejujurnya
aku mau menjadi pengganti Zayn di hatimu jika kamu membutuhkan orang lain.”
Kaisar mengangguk dan menggenggam jemariku.
“Maksud kamu? Aku tidak mengerti, Sar.”
“Maukah
kamu menikah denganku, Nisa? Menjadi pendampingku untuk selamanya?”
“Ka,
kamu serius, Sar?” aku sangat kaget mendengarnya.”
“Iya,
aku tidak pernah seserius ini, kan?” Kaisar tersenyum memandangku. Aku
ragu-ragu tapi setelah berpikir lama, akhirnya aku mengangguk. Hanya Kaisar
yang setia padaku selama beberapa tahun ini. Dia sangat baik dan
memperhatikanku. Aku tidak bisa menolaknya. “Baiklah, aku menerimanya.” Aku
mengangguk lalu membalas genggaman
tangannya. “Kamu serius, Nis?” Kaisar bertanya lagi. Aku menjawabnya dengan
mengangguk.
***
Akhirnya,
kini aku percaya terhadap pepatah “Hari ini akan menjadi hari yang lebih baik
dari hari kemarin”. Perlahan tapi pasti, kebahagiaan sudah mulai menyelimutiku.
Hari ini, pernikahanku akan berlangsung. Kaisar akan menjadi suamiku. Hari ini
adalah hari yang paling kutunggu-tunggu di dalam hidupku. Hari dimana aku
bersanding dengan kekasih yang akan mendampingiku selamanya.
Tanggal
25 Maret 2014, hari yang paling bersejarah. Hari ini juga menjadi hari terakhir
kali aku melihat Kaisar. Aku pasti akan merindukan kasihnya di sisiku. Sungguh,
aku ingin terus bersamanya. Dan sekarang aku paham. Terhadap Zayn, aku mengenal
ketakutan roller coaster yang
menghantuiku. Semenjak mengenal Kaisar, ketakutan akan roller coasterku menjadi hilang dan digantikan oleh kebahagiaan.
Kaisar akan selalu menjadi roller coasterku
yang sejati. Ternyata bukan roller
coaster yang membuatku takut, tapi perpisahan.