Hari
itu adalah hari pertama aku bertemu dengan pemilik mata sayu itu. Mata pertama
yang kulihat saat menjadi Mahasiswa baru di Universitas Mulia Arts. Mata yang
mengingatkanku pada sosoknya yang penuh arti. Kusebut dia, Bintang.
23 Februari 2013.
Aku. Bayu Ali Pratama. Aku seorang mahasiswa
yang biasa saja. Hal yang menarik yang ada pada diriku hanya karena aku adalah
seorang fotografer. Tidak handal. Namun, aku mempunyai keyakinan dan cita-cita
yang tinggi akan profesi itu. Aku mempunyai tubuh yang sama dengan orang-orang
normal pada umumnya. Kulitku tidak hitam, tidak juga putih. Tak usahlah
hiraukan akan ciri dan bagaimana karakterku. Ini bercerita tentang, dia. Dia
yang selalu kusebut Bintang.
Aku
memasuki kelas dengan langkah gontai sambil melirik setiap sudut untuk mencari
sosoknya. Dia tak nampak. Tak mungkin dia tidak datang kuliah. Karena
penasaran, aku berjalan mendekati Tia, sahabatnya.
“Tia,
Kirana mana, ya? Ngga masuk?” tanyaku dengan muka biasa saja agar Tia tidak
curiga. “Masuk, kok, Bay. Tungguin aja. Emang dia gitu. Suka datang telat. Gue
duluan, ya.” Tia masuk kelas meninggalkan aku yang melongo sendiri seperti
patung. Memang benar, Kirana sering datang telat. Ya sudahlah, sebaiknya aku
masuk kelas duluan.
Aku
baru saja berjalan 3 langkah dari tempat semula, seseorang berlari sambil
meneriakkan namaku. “Bayu! Tungguin aku, Bay!” aku berbalik kearah suara
perempuan itu. Ternyata dia Ayu Kirana. Aku berteman dengannya sejak masuk ke
kampus ini. “Cepetan, Yu! Udah masuk, tuh.” Aku melambaikan tangan kearahnya.
“Heem.. capek, Bay. Kamu, sih suruh cepet-cepet. Pak Jono aja belum masuk
kelas.” Ayu menyapu keringat yang membasahi keningnya. “ Yaudah, masuk.” Aku
menarik tangannya memasuki kelas.
“Bay,
mau ice cream nggak?” Tanya Ayu sambil menyodorkan satu ice cup kepadaku. Saat
itu aku lagi membaca di taman belakang sekolah. “Tumben, lagi banyak uang, ya,
Yu?” aku menerima ice cream sambil melihat kemasannya. Belum expired. “Ah, ngga
juga, Bay. Papa ngasih duit lebih tadi, hehehe.” Dia nyengir lalu duduk di
sampingku.
Gue
yang lagi asyiknya makan ice cream terkejut saat Ayu menepuk pundakku. “Bay,
Bay! Andini Kirana, tuh.” Dia memegang kepalaku lalu memutarnya. Di ujung
gedung tidak jauh dari tempat kami, Kirana melihat kami dan tersenyum. “Aduh,
sakit. Ngapain diputer, sih? Kan bisa balik sendiri. Emang apa urusannya aku
dengan Kirana?” aku menjawab jutek lalu melanjutkan memakan ice creamku yang
tertunda. “Ada gosip kalau kamu suka ya sama Kirana?” dia bertanya lalu
menghadap kearahku. “Kamu, ya. Gosip gitu aja dipercaya.” Aku nyengir kuda. “
Kamu bohong, ah. Ngaku aja. Ngga kenapa-napa kali, Bay.” Dia ngakak sampai ice
creamnya hampir tumpah. “Kirana emang cantik, pinter, baik juga, sih. Pantas
aja jadi idaman cowok seantero kampus.” Aku menjawab dengan senyum geli.
“Tuhkan! Nggak mau ngaku lagi. Dasar Bayu!” Ayu mengambil tasnya lalu berjalan
meninggalkanku dengan muka yang masih tersenyum puas. Itulah dia.
“Yu, menurut kamu, Kirana itu orangnya gimana?” aku bertanya sambil
meneguk pop orange juice. Aku dan Ayu saat ini berada di mall tak jauh dari
kampus. Tepatnya di Aleon Café. Ayu memainkan gelas yang ada dihadapannya.
“Kirana itu baik, cantik, ramah, pinter, pokoknya best-lah. Kenapa bertanya
begitu, Bay?” dia berhenti memainkan gelas. “Cuma pengen tahu aja pendapat
kamu. Tapi kalau menurut aku, Kirana itu istimewa. Dimataku, Kirana itu
bintang. Selalu ada disetiap malamku. Ngga tahu kenapa, dia selalu ada di fikiranku,
Yu. Dia bukan cewek yang biasa saja. She’s like an angel. Dia punya mata yang
indah. Yang hanya aku yang dapat membacanya. Senyumnya. Aku suka segala tentang
dia. Dia terlalu rumit untuk diartikan hanya dalam satu paragraf. Aku suka
saat dia berjalan, tertawa, memegang kamera, tersenyum kearahku. Ah, dia.
Bintang yang selalu kudambakan.” Aku memperhatikan air muka Ayu. Berbeda.
Berbeda dari sebelumnya. “Kamu, kamu suka beneran sama Kirana, Bay?” dia
bertanya perlahan. “Iya, bukan hanya suka. Tapi aku ingin dia. Aku
mencintainya.” Aku menjawab dengan muka bingung. Kenapa Ayu bertanya seperti
itu? Apakah ada yang salah? Ku ingat kembali perkataanku. Tak ada yang salah.
“Bay, kamu cocok, kok sama dia. Aku setuju aja kalau kamu jadian sama
dia. Dia gadis yang baik, kok. Kamu harus bisa naklukin hati Kirana secepatnya
sebelum dia milik orang lain.” Ayu mengerjapkan mata dan menunduk. “Kamu
kenapa, Yu? Kok wajahnya ditekuk?” aku bertanya dengan nada heran. “Apaan, nih?
Aku nggak kenapa-napa, Bay. Becanda aja kamu.” Dia seperti tersenyum terpaksa.
Ada yang salah dengan Ayu atau mungkin hanya perasaanku saja. Dia selalu
begitu.
3 Maret 2013.
Aku
sedang mengamati berbagai lukisan dan potret unik yang dipajang di gedung aula.
Hari ini diadakan pameran berbagai karya unik dan abstrak yang telah
dikumpulkan oleh masing-masing mahasiswa angkatan 2012 sebelum aku. Aku sangat
tertarik mengamati setiap detail dari lukisan dan potret tersebut. Idenya
bagus. Dan yang paling menarik perhatianku yaitu, lukisan perempuan yang berada
di pojok ruangan dekat dengan pintu keluar aula. Lukisan itu terbuat dari bulu
hewan. Entah, sepertinya terbuat dari bulu kucing yang ditempel sedemikian rupa
hingga membentuk seorang wanita yang sedang tertawa. Lukisan itu seperti dia.
Unik, susah dijelaskan, dan objeknya pun, seperti benar-benar dia.
Seseorang menjawil pundakku. Aku berbalik, Ayu. Dia menggunakan pakaian
harajuku. Aku menatapnya tanpa bersuara. Heran dengan bocah ini. “Kamu, kenapa
pake baju harajuku? Mau kontes dimana?” tanyaku heran setengah bercanda.
“Jahat, nih. Aku pake baju ini untuk minta difotoin kamu. Pak Jono nyuruh para
mahasiswi memakai baju yang unik untuk difoto trus dimasukin di majalah
sekolah. Mau bantu foto ngga?” dia memperbaiki pita sambil berdehem pelan. “Oh
gitu. Sini aku fotoin. Tapi kamu berdiri disamping lukisan itu,ya.” Aku
menunjuk lukisan perempuan yang aku lihat tadi. “Oke.” Dia tersenyum. Dia manis kalau tersenyum, fikirku.
Kirana berlari ke arah kami dengan nafas yang tersengal. “Aku mau difoto
dong sama Ayu. Bolehkan, Bay?” Kirana merapikan harajuku dan kemudian berdiri
di samping Ayu. Muka Ayu seperti tidak setuju. Namun, dia lalu tersenyum. Aku
lega. Mereka berbalik ke arah kamera. “Satu, dua.. cheese!”
***
Kami bertiga berjalan menuju kantin kampus. Rasanya lapar setelah
seharian keliling melihat pameran. Kirana memegang tanganku. Aku merasa tidak
enak dengan Ayu. Tapi nampaknya Ayu biasa-biasa saja. Dia sesekali melirik kami
tapi sedetik kemudian kembali memperhatikan kameranya. Jadi, aku memegang
tangan Kirana dengan rasa tenang. Kirana, melihat tangannya dengan tanganku.
Wajahnya memerah. Mungkin dia malu. Dia lalu mendongak menatapku. Wajahnya
imut, ya imut.
Aku
menatap fotonya lamat-lamat. Akhirnya kesampaian juga keinginanku untuk
mendapat satu potret fotonya. Memperhatikan setiap lekukan senyumnya membuatku
senyumku mengembang dengan sendirinya. Dia sangat pantas menjadi bintang. Aku
tidak segan-segan menjadi bumi. Bumi yang selalu membutuhkan bintang di tiap
malamnya. Ah, dia memang tak sekedar cantik. Ada sesuatu hal yang aku sangat
sukai darinya. Ketulusannya. Aku membalikkan badan dan berdesah pelan. Apakah
aku bisa menjadi yang terbaik untuknya? Pertanyaan itu sepertinya tak pernah
memiliki jawaban.
***
Esoknya, Ayu tidak masuk. Aku khawatir. Ada apa dengannya? Mungkin
sebaiknya setelah kuliah aku berkunjung ke rumahnya. Mungkin dia sakit. Aku
melirik kearah koridor kampus, Kirana berlari kearahku membawa setumpuk buku.
Nampaknya dia sangat kerepotan. “Sini aku bantu, Na.” aku mengambil buku
tersebut dari tangannya dan tersenyum. “Makasih, Bay.” Dia membalas senyumku.
“Eh, Ayu mana, Bay? Tumben ngga sama kamu?” tanyanya. “Ngga tahu, Na. Dia ngga
kelihatan dari tadi. Mungkin dia ngga masuk. Setelah jam terakhir, aku mau ke
rumahnya. Mau ikut, ngga?” tanyaku kemudian berjalan kearah kelas. “Boleh. Aku
juga mau ketemu dia. Setelah jam terakhir ya, ok?” dia mengambil buku dari
tanganku kemudian berjalan mendahuluiku.
Ayu
sakit. Dan juga matanya sembab. Seperti habis nangis. Ada apa dengan dia? Siapa
yang berani nyakitin sahabatku, Ayu? Dia juga ngga mau cerita. “Yu, cerita dong
sama kita, siapa tahu kita bisa bantu?” tanyaku khawatir. “Aku ngga
kenapa-napa, kok, Bay, Na. Ngga usah khawatir.” Ayu tersenyum. Tapi senyumnya
berbeda. Seperti dipaksakan. Setelah lama berbincang dengannya, aku dan Kirana
pamit untuk pulang.
16 Maret
2013.
Aku
sedang berada di sebuah toko yang ada di mall dekat kampus. Aku sedang bingung
memilih-milih kalung apa yang cocok dengannya. Tanggal 28 nanti, bintang akan
ulang tahun yang ke-19. Aku akan memberikan hadiah terbaik yang bisa aku
berikan. Aku berpendapat, kalung akan cocok untuknya. Namun, kalung yang
seperti apa? Aku masih bingung memilih-milih. Akhirnya, aku mendapatkan kalung
yang sangat cocok untuknya. Kalung bintang.
27 Maret 2013.
Aku
memutari gedung kampus mencari Ayu. Dia tidak kelihatan. Dia juga tidak
menjawab telfonku. Aneh. Akhirnya, aku mendapatinya sedang ngemil snack di
belakang kampus sambil membaca. Aku mendekatinya. Dia merasakan kehadiranku
lalu berbalik. “Bayu? Ngapain kesini?” tanyanya dengan muka sok imut. “Emang
ngga boleh?” aku bertanya menggoda. “Boleh, boleh hehe.” Dia tertawa. “Eh, aku
mau minta pendapat, menurut kamu, cewek itu kalau dikasih hadiah, sukanya
hadiah yang seperti apa?” aku bertanya malu-malu lalu duduk di sampingnya.
“Hmm, apa ya? Gaun? Sepatu? Emas? Aku ngga tau, Bay.” Dia membalikkan badan
menghadap kearahku. “Kalau kalung, bagus ngga, Yu?” tanyaku hati-hati “Bagus,
kok. Emang, kamu mau kasih hadiah ke siapa, sih?” tanyanya lalu mengambil snack
terakhir. “Aku mau ngasih orang yang special, hehe.” Aku nyengir. “Kirana kan?
Sok ngga mau ngasih tau lagi.” Dia tertawa lagi. “Hehe.” Aku nyengir kemudian
tersenyum. “Kamu, punya ngga sosok yang kamu idamkan?” tanyaku tiba-tiba. “Hmm,
ada dong, Bay” dia nyengir lagi. “Dia orang seperti apa?” tanyaku kenudian.
“Yang jelas, hanya dia yang bisa ngebuat aku nyaman kalau ada dia.” Jawab Ayu
dengan tatapan mata sendu. Ada yang berbeda.
There’s something in the way you look at me
If you changed my heart knows you’re the missing piece
If you changed my heart knows you’re the missing piece
You make me believe that there’s
nothing in this world I can’t be
I never knew what you see
But there’s something in the way you look at me...
I never knew what you see
But there’s something in the way you look at me...
Aku mendengarkan lagu dari Christian Bautista. Lagunya menyejukkan. Aku
sedang berfikir, apakah aku bisa menyatakan cinta di hadapannya besok? Di hari
ulang tahunnya? Ah, perasaanku saat ini sangat kacau. Aku tidak tahu aku harus
bagaimana. Apakah dia akan menertawakanku dan menganggap semuanya hanya bualan
semata? Hanya omong kosong yang dibuat-buat? Perasaanku menjadi tak karuan.
Apakah wajar menyukai seseorang dalam kurun waktu 2 bulan lebih?
28 Maret 2013.
Inilah
harinya. Perasaanku menjadi berdebar-debar. Ketakutanku jauh lebih parah dari
tugas-tugas rumit yang diberikan Pak Radi selama ini. Jantungku berdetak 3 kali
lebih cepat. Ini hanya dugaanku. Keringat mulai membasahi sekujur tubuhku.
Sebentar lagi dia akan menemuiku disini. Di taman belakang kampus. Aku tidak
sabar dan tidak juga ingin cepat-cepat. Badanku lemas seketika saat mendengar
suara langkah mendekat kearahku.
“Hei, Bay. Ngapain sendirian disini?” Ayu
duduk di sampingku dan mengeluarkan ipodnya. “Jangan dipasang dulu, Yu. Aku mau
ngomong sesuatu.” Aku memegang tangannya lalu mengambil ipodnya. Dia memasang
wajah dengan terheran-heran. “Yu, kamu Ayu Kirana, kan?” aku memulai. “Iya.
Kamu kenapa, sih, Bay?” dia melongo menatapku. “Selama ini, hanya satu nama
gadis yang selalu kusanjung di dalam otakku. Juga disini.” Aku meletakkan
tangannya di dadaku. “Maksud kamu apa, Bay?” dia melepas pegangan tanganku dan
menunduk. “Ya, kamulah orang yang selama ini aku suka, selama ini aku tunggu.
Kamu yang selalu hadir di tiap malamku. Kamu juga merasakan hal yang sama,
bukan?” tanyaku membelai wajahnya. “Tidak. Kamu salah orang, Bay. Gadis yang
selama ini kamu sebut bintang, dia adalah Kirana. Gadis pujaan seantero kampus.
Kamu salah, Bay.” Aku melihat mata sayu itu mulai berkaca-kaca. “Tidak. Bintang
dan Kirana adalah satu orang yang sama. Kirana yang selalu kudamba adalah kamu.
Ayu Kirana. Namun, aku tak pernah berani mengatakannya. Tapi hari ini, aku akan
mengatakan semuanya.” Senyumku lagi berusaha melihat matanya yang sayu. “Tapi
selama ini, kamu sangat dekat dengan Kirana. Sampai kamu mau bergandengan
tangan dengannya. Apa maksudnya semua itu?” air mata mulai mengalir di pipinya.
“Aku, aku hanya ingin lihat reaksi kamu. Aku hanya ingin tahu itu, Yu. Kamu
ngerti kan? Jadi jawaban kamu apa? Kamu punya rasa yang sama, kan?” tanyaku lagi
tak tahan melihatnya menangis. Kupasangkan kalung bintang di lehernya yang
indah. “Aku ingin selamanya sama kamu, karena bintang adalah Kirana. Kamu.” Aku sekarang sudah bisa melihatnya tersenyum lagi. Dia milikku.