Minggu, 05 Agustus 2012

Aku Masih Seorang Indigo

Part 2 (Lanjutan cerita "Andai Ku Bukan Seorang Indigo")

         Hari-hariku dirumah sakit sangatlah membosankan. Kerjaku cuma berdiam diri ditempat tidur. Huh, sungguh membuatku bosan. Andai saja aku buta dan tak lagi menjadi seorang indigo, aku mungkin akan bahagia seumur hidup. Tapi, tetap saja aku masih seorang indigo. Kenapa harus aku? Ah, tidak ada jawaban untuk itu.
         Sudah 3 hari aku dirumah sakit. Cuma mama seorang yang menjagaku. Papa lagi tugas diluar kota. Kak Wian masih kuliah di Yogya. Mereka mungkin sudah tau keadaanku namun masih belum bisa datang menjengukku. Tak apalah, toh aku juga sudah senang mama menjaga dan merawatku.
        Hari ini, aku keluar dari rumah sakit. Mama mendorong kursi rodaku dibantu oleh seorang suster. Rasanya berat akan melewati hari-hari dengan mata tak dapat melihat. Tapi, aku teringat kata-kata kak Wian yang mengatakan "Hidup itu adalah sebuah jalan, Sa. Kadang kita menemukan tanjakan dan kebuntuan. Namun, selama kita bertahan dan berusaha, kita akan selalu mendapatkan jalan keluar." Itu kata-kata Kak Wian yang dikatakan padaku sebelum dia meninggalkan Jakarta menuju Yogya. Rasanya aku kangen banget sama Kak Wian.
        Waktu sudah menunjukkan pukul 19.30. Ini saatnya aku telfon Kak Wian. Sudah kangen banget rasanya.
*(di telfon)*
Wian   : Halo
Elsa     : Halo, Kak. Ini Elsa, Kak!
Wian   : Hey, Elsa. Apa kabar sayang? Kamu udah keluar dari rumah sakit, ya?
Elsa     : Udah kok, Kak. Eh, Kakak kapan pulang ke Jakarta?
Wian   : Nanti yah, dek. Kalau skripsi kakak udah selesai, baru deh Kak Wian pulang ke Jakarta.
Elsa     : Masih lama ya, Kak? Elsa udah kangen banget nih sama kakak.
Wian   : Kak Wian juga kangeeen banget sama kamu, Sa.  Eh, kamu kan udah ngga bisa ngeliat lagi dek?
Elsa     : Elsa seneng kok kak jadi orang buta. Elsa udah jarang ngeliat hantu lagi, Kak.
Wian   : Tapi kakak lebih seneng Elsa yang dulu. Elsa yang ceria, suka ngambek, paling doyan yang namanya  
             ketawa ketiwi.
Elsa     : Kak Wian jangan lebay gitu deh, aku jadi down nih, Kak.
Wian   : Hehe, sorry deh sorry. Eh, Sa, kamu ngga tidur? udah malem loh.
Elsa     : Eh, iya ya kak. Saking kangennya aku sama kakak jadi lupa deh sekarang udah jam berapa.
Wian   : Udah gih, pergi tidur sana. Besok sekolah loh, Sa,
Elsa    : Siap bos! Besok aku telfon kakak lagi, yah. Love you kak, bye!
Wian  : Bye, Elsa.
           Telfon tertutup. Elsa mengempaskan tubuhnya di tempat tidur. Dia sangat lelah hari ini. Dia meraba-raba meja yang ada di samping tempat tidurnya kemudian meletakkan ponselnya. Tiba-tiba kamarnya menjadi sangat dingin. Dia semakin bingung dan mendapati seorang perempuan memakai baju putih menghadap ke arahnya. Elsa semakin bingung. "Kenapa aku dapat melihat jelas perempuan itu padahal aku kini buta" pikirnya. Perempuan yang sejak tadi memperhatikan Elsa lalu mendekati Elsa semakin dekat. Elsa semakin ketakutan dan tak dapat berbuat apa-apa. Rasanya ingin berteriak tapi tidak bisa. Suaranya seperti tercekat dikerongkongan. "Ya, Tuhan bantulah aku" mohon Elsa.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Andai Ku Bukan Seorang INDIGO

              Andai ku bukan seorang indigo. Ya, indigo. Banyak bilang bahwa jadi seorang indigo itu unik, hebat atau apalah. Itu masih berupa pendapat orang-orang saja. Tetapi, jika sudah merasakannya, kamu pasti merasa akan mencongkel kedua bola matamu agar kamu tidak dapat lagi melihat dunia sebagai seorang indigo.
              Namaku Elsa. Dari lahir (mungkin) aku telah menjadi seorang indigo. Banyak hal yang tidak bisa diketahui oleh orang biasa dalam hidupnya. Namun, aku tidak seperti itu. Aku dapat melihat hal-hal (yang mungkin membuat orang penasaran) seperti kematian seseorang, sesosok yang bukan merupakan dari alam semesta atau semacamnya. Itu sangat menakutkan. Jika saja ada keajaiban, aku bakalan minta untuk menjadi orang biasa saja. Jadi indigo itu menyakitkan. Aku mengatakan seperti itu karena, setiap indigo selalu diperlihatkan hal-hal yang bersifat gaib. Tidak nyata. Aku membencinya. Sangat membencinya.
             Pernah, aku sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Hari itu adalah hari dimana ujian untuk kelas X11 akan berlangsung. Papa tidak dapat mengantarku karena sangat sibuk. Ya, dengan kecepatan maksimum, aku berlari menuju garasi untuk mengambil mobil jazz merahku. Karena takut terlambat, aku tidak sengaja menabrak pintu garasi tersebut. Pintu itu terkunci. Dengan sangat gelisah dan panik, aku mencongkel pintu tersebut menggunakan obeng yang ada di samping pot bunga mamaku. Dengan susah payah, akhirnya terbuka juga. Tetapi, baru selangkah memasuki garasi tersebut, aku disambut dengan sesosok yg menyerupai tiang listrik, tinggi, dan sampai-sampai aku tak dapat melihat wajahnya. Seketika aku  langsung berteriak dan menyadari bahwa tidak ada seorang pun di dalam rumah. Aku langsung berlari keluar dan tiba-tiba......................braakkk!!!
              Aku sedang di rumah sakit. Tekapar dalam ruang UGD dengan mata tak dapat melihat. Ya tuhan, apakah kini aku buta? Ya, memang aku buta. Aku sangat bersyukur akan hal itu. Buta adalah jalan satu-satunya agar aku tak menjadi seorang indigo lagi. Aku berbalik melihat pintu kamar dan aku melihat sesosok teman SMP ku yang telah meninggal. Tiba-tiba.... Ahhh tidaaaakkkkk!!!!!!