Bilang saja luka jika memang terluka
Bilang saja kau butuh aku
Bilang saja kalau kau ingin ku temui
Jangan sungkan
Mendekatlah
Katakan kau butuh aku atau pelukanku
Hanya... katakan saja
Berbisik di sini dekat telingaku
Bah! Kau tak butuh aku
Apalagi pelukanku
Lantas kau butuh apalagi?
Luka?
Goresan Pena
Even the literature can't see your soul~
Sabtu, 10 Desember 2016
Jangan usir! [ MorningPoems #6 ]
Jangan usir!
Walau kau sudah merasa muak
Walau kupingmu sudah terasa panas
Oleh celoteh-celoteh kambing hitam
Jangan usir!
Biar saja mereka menekan
Menghardik
Mencaci
Meludahi
Jangan usir!
Mereka tak ada nurani
Hanya bisa pilih kasih
Tak malu tak tahu diri
Berlenggak-lenggok merasa suci
Jangan usir!
Walau mereka menusuk membabi buta
Walau pisau sudah menusuk tulang
Jangan usir!
Mereka hanya manusia jahannam.
Walau kau sudah merasa muak
Walau kupingmu sudah terasa panas
Oleh celoteh-celoteh kambing hitam
Jangan usir!
Biar saja mereka menekan
Menghardik
Mencaci
Meludahi
Jangan usir!
Mereka tak ada nurani
Hanya bisa pilih kasih
Tak malu tak tahu diri
Berlenggak-lenggok merasa suci
Jangan usir!
Walau mereka menusuk membabi buta
Walau pisau sudah menusuk tulang
Jangan usir!
Mereka hanya manusia jahannam.
Sabtu, 08 Oktober 2016
Malang [ MorningPoems #5 ]
Kini aku mengerti
Sedikit demi sedikit
Semenjak waktu beranjak pergi
Dan aku telah melangkah pulang
Tak tahu malu
Aku benar-benar tak tahu malu
Pulang tanpa sedikit beras
Bahkan uang pun tak ada
Berharap anak kecilku tak merengek minta susu
Berharap istriku tak meminta perhiasan mahal
Karna di kantungku hanya ada lembaran kertas
Sungguh malang!
Aku tak perlu makan
Memang seharusnya tidak makan
Aku hanya perlu sembahyang
Berdoa kepada Allah Ta’ala
Sendirian di bilik kecil
Sembari mendengar dentingan sendok
Ya Allah, Hamba lapar
Mudahkanlah.
Jumat, 07 Oktober 2016
Our Himalaya [ MorningPoems #4 ]
She could see the sunset
Behind Himalaya
At the moment I kiss her
Calm and shine
Sitting next to me
Hold each other
My beautiful pregnant wife
I was smiling
Spaces between our fingers are right
and fit perfectly
And I ask her
Not to die
Not without me
‘Till I realize
I couldn't do it someday
When my queen and my little princess
Is not sitting next to me anymore
Himalaya saw
It is truly-honest words
Because I love Himalaya
And their memory. That's it.
To Mermaid [ MorningPoems #3 ]
Under the brittle tobacco tree
You whisper a song near my ear
I saw your eyes
Bright and smiling
Blue like the ocean
Thundering like running wave
I understand
Why I keep watching
Your eyes full of weariness
Pull me to hug your body
Sometimes
Just sometimes
When I saw you
Even seashore is afraid to be near you
As always you
Pure as mermaid in North sea
Malu [ MorningPoems #2 ]
Langit mulai berubah jingga
Suara adzan sayup-sayup terdengar dikumandangkan
Jejak per jejak kutinggalkan di tanah basah itu
Harapku dia kan menjejaki tanah yang sama
Di sisi jalan kutersipu
Dengan warna merah di kedua pipi
Jalan menunduk lagi lagi tersipu
Jangan merayuku
Kembali ku menengadah ke atas
Mengingat tujuan sebenarnya aku melangkah ke mesjid
Aku tersipu malu oleh karena lelaki
Aku terlebih malu disaksikan oleh-Nya.
Istriku [ MorningPoems #1 ]
Istriku, jangan bersedih
Kan ku kecup kedua kelopak matamu
Tuk menengkan fikiranmu
Hatimu
Lukamu
Istriku yang cantik
Kan ku jamah rambutmu tiap malam
Menemanimu melalui mimpi
Kujanjikan kau pertemuan kita
Istriku yang baik
Jangan menungguku hingga kantuk menyelimuti matamu
Terlelaplah
Tidurlah
Aku akan menemuimu
Langganan:
Komentar (Atom)