Sabtu, 09 Agustus 2014

Bintang di Mata Bumi

 11 Januari 2013.
       Hari itu adalah hari pertama aku bertemu dengan pemilik mata sayu itu. Mata pertama yang kulihat saat menjadi Mahasiswa baru di Universitas Mulia Arts. Mata yang mengingatkanku pada sosoknya yang penuh arti. Kusebut dia, Bintang.

23 Februari 2013.
        Aku. Bayu Ali Pratama. Aku seorang mahasiswa yang biasa saja. Hal yang menarik yang ada pada diriku hanya karena aku adalah seorang fotografer. Tidak handal. Namun, aku mempunyai keyakinan dan cita-cita yang tinggi akan profesi itu. Aku mempunyai tubuh yang sama dengan orang-orang normal pada umumnya. Kulitku tidak hitam, tidak juga putih. Tak usahlah hiraukan akan ciri dan bagaimana karakterku. Ini bercerita tentang, dia. Dia yang selalu kusebut Bintang.
        Aku memasuki kelas dengan langkah gontai sambil melirik setiap sudut untuk mencari sosoknya. Dia tak nampak. Tak mungkin dia tidak datang kuliah. Karena penasaran, aku berjalan mendekati Tia, sahabatnya.
        “Tia, Kirana mana, ya? Ngga masuk?” tanyaku dengan muka biasa saja agar Tia tidak curiga. “Masuk, kok, Bay. Tungguin aja. Emang dia gitu. Suka datang telat. Gue duluan, ya.” Tia masuk kelas meninggalkan aku yang melongo sendiri seperti patung. Memang benar, Kirana sering datang telat. Ya sudahlah, sebaiknya aku masuk kelas duluan.
         Aku baru saja berjalan 3 langkah dari tempat semula, seseorang berlari sambil meneriakkan namaku. “Bayu! Tungguin aku, Bay!” aku berbalik kearah suara perempuan itu. Ternyata dia Ayu Kirana. Aku berteman dengannya sejak masuk ke kampus ini. “Cepetan, Yu! Udah masuk, tuh.” Aku melambaikan tangan kearahnya. “Heem.. capek, Bay. Kamu, sih suruh cepet-cepet. Pak Jono aja belum masuk kelas.” Ayu menyapu keringat yang membasahi keningnya. “ Yaudah, masuk.” Aku menarik tangannya memasuki kelas.
         “Bay, mau ice cream nggak?” Tanya Ayu sambil menyodorkan satu ice cup kepadaku. Saat itu aku lagi membaca di taman belakang sekolah. “Tumben, lagi banyak uang, ya, Yu?” aku menerima ice cream sambil melihat kemasannya. Belum expired. “Ah, ngga juga, Bay. Papa ngasih duit lebih tadi, hehehe.” Dia nyengir lalu duduk di sampingku.
          Gue yang lagi asyiknya makan ice cream terkejut saat Ayu menepuk pundakku. “Bay, Bay! Andini Kirana, tuh.” Dia memegang kepalaku lalu memutarnya. Di ujung gedung tidak jauh dari tempat kami, Kirana melihat kami dan tersenyum. “Aduh, sakit. Ngapain diputer, sih? Kan bisa balik sendiri. Emang apa urusannya aku dengan Kirana?” aku menjawab jutek lalu melanjutkan memakan ice creamku yang tertunda. “Ada gosip kalau kamu suka ya sama Kirana?” dia bertanya lalu menghadap kearahku. “Kamu, ya. Gosip gitu aja dipercaya.” Aku nyengir kuda. “ Kamu bohong, ah. Ngaku aja. Ngga kenapa-napa kali, Bay.” Dia ngakak sampai ice creamnya hampir tumpah. “Kirana emang cantik, pinter, baik juga, sih. Pantas aja jadi idaman cowok seantero kampus.” Aku menjawab dengan senyum geli. “Tuhkan! Nggak mau ngaku lagi. Dasar Bayu!” Ayu mengambil tasnya lalu berjalan meninggalkanku dengan muka yang masih tersenyum puas. Itulah dia.
           “Yu, menurut kamu, Kirana itu orangnya gimana?” aku bertanya sambil meneguk pop orange juice. Aku dan Ayu saat ini berada di mall tak jauh dari kampus. Tepatnya di Aleon Café. Ayu memainkan gelas yang ada dihadapannya. “Kirana itu baik, cantik, ramah, pinter, pokoknya best-lah. Kenapa bertanya begitu, Bay?” dia berhenti memainkan gelas. “Cuma pengen tahu aja pendapat kamu. Tapi kalau menurut aku, Kirana itu istimewa. Dimataku, Kirana itu bintang. Selalu ada disetiap malamku. Ngga tahu kenapa, dia selalu ada di fikiranku, Yu. Dia bukan cewek yang biasa saja. She’s like an angel. Dia punya mata yang indah. Yang hanya aku yang dapat membacanya. Senyumnya. Aku suka segala tentang dia. Dia terlalu rumit untuk diartikan hanya dalam satu paragraf. Aku suka saat dia berjalan, tertawa, memegang kamera, tersenyum kearahku. Ah, dia. Bintang yang selalu kudambakan.” Aku memperhatikan air muka Ayu. Berbeda. Berbeda dari sebelumnya. “Kamu, kamu suka beneran sama Kirana, Bay?” dia bertanya perlahan. “Iya, bukan hanya suka. Tapi aku ingin dia. Aku mencintainya.” Aku menjawab dengan muka bingung. Kenapa Ayu bertanya seperti itu? Apakah ada yang salah? Ku ingat kembali perkataanku. Tak ada yang salah.
          “Bay, kamu cocok, kok sama dia. Aku setuju aja kalau kamu jadian sama dia. Dia gadis yang baik, kok. Kamu harus bisa naklukin hati Kirana secepatnya sebelum dia milik orang lain.” Ayu mengerjapkan mata dan menunduk. “Kamu kenapa, Yu? Kok wajahnya ditekuk?” aku bertanya dengan nada heran. “Apaan, nih? Aku nggak kenapa-napa, Bay. Becanda aja kamu.” Dia seperti tersenyum terpaksa. Ada yang salah dengan Ayu atau mungkin hanya perasaanku saja. Dia selalu begitu.

3 Maret 2013.
          Aku sedang mengamati berbagai lukisan dan potret unik yang dipajang di gedung aula. Hari ini diadakan pameran berbagai karya unik dan abstrak yang telah dikumpulkan oleh masing-masing mahasiswa angkatan 2012 sebelum aku. Aku sangat tertarik mengamati setiap detail dari lukisan dan potret tersebut. Idenya bagus. Dan yang paling menarik perhatianku yaitu, lukisan perempuan yang berada di pojok ruangan dekat dengan pintu keluar aula. Lukisan itu terbuat dari bulu hewan. Entah, sepertinya terbuat dari bulu kucing yang ditempel sedemikian rupa hingga membentuk seorang wanita yang sedang tertawa. Lukisan itu seperti dia. Unik, susah dijelaskan, dan objeknya pun, seperti benar-benar dia.
        Seseorang menjawil pundakku. Aku berbalik, Ayu. Dia menggunakan pakaian harajuku. Aku menatapnya tanpa bersuara. Heran dengan bocah ini. “Kamu, kenapa pake baju harajuku? Mau kontes dimana?” tanyaku heran setengah bercanda. “Jahat, nih. Aku pake baju ini untuk minta difotoin kamu. Pak Jono nyuruh para mahasiswi memakai baju yang unik untuk difoto trus dimasukin di majalah sekolah. Mau bantu foto ngga?” dia memperbaiki pita sambil berdehem pelan. “Oh gitu. Sini aku fotoin. Tapi kamu berdiri disamping lukisan itu,ya.” Aku menunjuk lukisan perempuan yang aku lihat tadi. “Oke.” Dia tersenyum. Dia manis kalau tersenyum, fikirku.

           Kirana berlari ke arah kami dengan nafas yang tersengal. “Aku mau difoto dong sama Ayu. Bolehkan, Bay?” Kirana merapikan harajuku dan kemudian berdiri di samping Ayu. Muka Ayu seperti tidak setuju. Namun, dia lalu tersenyum. Aku lega. Mereka berbalik ke arah kamera. “Satu, dua.. cheese!”
***
           Kami bertiga berjalan menuju kantin kampus. Rasanya lapar setelah seharian keliling melihat pameran. Kirana memegang tanganku. Aku merasa tidak enak dengan Ayu. Tapi nampaknya Ayu biasa-biasa saja. Dia sesekali melirik kami tapi sedetik kemudian kembali memperhatikan kameranya. Jadi, aku memegang tangan Kirana dengan rasa tenang. Kirana, melihat tangannya dengan tanganku. Wajahnya memerah. Mungkin dia malu. Dia lalu mendongak menatapku. Wajahnya imut, ya imut.
           Aku menatap fotonya lamat-lamat. Akhirnya kesampaian juga keinginanku untuk mendapat satu potret fotonya. Memperhatikan setiap lekukan senyumnya membuatku senyumku mengembang dengan sendirinya. Dia sangat pantas menjadi bintang. Aku tidak segan-segan menjadi bumi. Bumi yang selalu membutuhkan bintang di tiap malamnya. Ah, dia memang tak sekedar cantik. Ada sesuatu hal yang aku sangat sukai darinya. Ketulusannya. Aku membalikkan badan dan berdesah pelan. Apakah aku bisa menjadi yang terbaik untuknya? Pertanyaan itu sepertinya tak pernah memiliki jawaban.
***
           Esoknya, Ayu tidak masuk. Aku khawatir. Ada apa dengannya? Mungkin sebaiknya setelah kuliah aku berkunjung ke rumahnya. Mungkin dia sakit. Aku melirik kearah koridor kampus, Kirana berlari kearahku membawa setumpuk buku. Nampaknya dia sangat kerepotan. “Sini aku bantu, Na.” aku mengambil buku tersebut dari tangannya dan tersenyum. “Makasih, Bay.” Dia membalas senyumku. “Eh, Ayu mana, Bay? Tumben ngga sama kamu?” tanyanya. “Ngga tahu, Na. Dia ngga kelihatan dari tadi. Mungkin dia ngga masuk. Setelah jam terakhir, aku mau ke rumahnya. Mau ikut, ngga?” tanyaku kemudian berjalan kearah kelas. “Boleh. Aku juga mau ketemu dia. Setelah jam terakhir ya, ok?” dia mengambil buku dari tanganku kemudian berjalan mendahuluiku.
           Ayu sakit. Dan juga matanya sembab. Seperti habis nangis. Ada apa dengan dia? Siapa yang berani nyakitin sahabatku, Ayu? Dia juga ngga mau cerita. “Yu, cerita dong sama kita, siapa tahu kita bisa bantu?” tanyaku khawatir. “Aku ngga kenapa-napa, kok, Bay, Na. Ngga usah khawatir.” Ayu tersenyum. Tapi senyumnya berbeda. Seperti dipaksakan. Setelah lama berbincang dengannya, aku dan Kirana pamit untuk pulang.

 16 Maret 2013.
           Aku sedang berada di sebuah toko yang ada di mall dekat kampus. Aku sedang bingung memilih-milih kalung apa yang cocok dengannya. Tanggal 28 nanti, bintang akan ulang tahun yang ke-19. Aku akan memberikan hadiah terbaik yang bisa aku berikan. Aku berpendapat, kalung akan cocok untuknya. Namun, kalung yang seperti apa? Aku masih bingung memilih-milih. Akhirnya, aku mendapatkan kalung yang sangat cocok untuknya. Kalung bintang.

27 Maret 2013.
          Aku memutari gedung kampus mencari Ayu. Dia tidak kelihatan. Dia juga tidak menjawab telfonku. Aneh. Akhirnya, aku mendapatinya sedang ngemil snack di belakang kampus sambil membaca. Aku mendekatinya. Dia merasakan kehadiranku lalu berbalik. “Bayu? Ngapain kesini?” tanyanya dengan muka sok imut. “Emang ngga boleh?” aku bertanya menggoda. “Boleh, boleh hehe.” Dia tertawa. “Eh, aku mau minta pendapat, menurut kamu, cewek itu kalau dikasih hadiah, sukanya hadiah yang seperti apa?” aku bertanya malu-malu lalu duduk di sampingnya. “Hmm, apa ya? Gaun? Sepatu? Emas? Aku ngga tau, Bay.” Dia membalikkan badan menghadap kearahku. “Kalau kalung, bagus ngga, Yu?” tanyaku hati-hati “Bagus, kok. Emang, kamu mau kasih hadiah ke siapa, sih?” tanyanya lalu mengambil snack terakhir. “Aku mau ngasih orang yang special, hehe.” Aku nyengir. “Kirana kan? Sok ngga mau ngasih tau lagi.” Dia tertawa lagi. “Hehe.” Aku nyengir kemudian tersenyum. “Kamu, punya ngga sosok yang kamu idamkan?” tanyaku tiba-tiba. “Hmm, ada dong, Bay” dia nyengir lagi. “Dia orang seperti apa?” tanyaku kenudian. “Yang jelas, hanya dia yang bisa ngebuat aku nyaman kalau ada dia.” Jawab Ayu dengan tatapan mata sendu. Ada yang berbeda.

There’s something in the way you look at me                                                                              
If you changed my heart knows you’re the missing piece                             
You make me believe that there’s nothing in this world I can’t be                                                          
I never knew what you see                                                                                                                
But there’s something in the way you look at me...

            Aku mendengarkan lagu dari Christian Bautista. Lagunya menyejukkan. Aku sedang berfikir, apakah aku bisa menyatakan cinta di hadapannya besok? Di hari ulang tahunnya? Ah, perasaanku saat ini sangat kacau. Aku tidak tahu aku harus bagaimana. Apakah dia akan menertawakanku dan menganggap semuanya hanya bualan semata? Hanya omong kosong yang dibuat-buat? Perasaanku menjadi tak karuan. Apakah wajar menyukai seseorang dalam kurun waktu 2 bulan lebih?

28 Maret 2013.
            Inilah harinya. Perasaanku menjadi berdebar-debar. Ketakutanku jauh lebih parah dari tugas-tugas rumit yang diberikan Pak Radi selama ini. Jantungku berdetak 3 kali lebih cepat. Ini hanya dugaanku. Keringat mulai membasahi sekujur tubuhku. Sebentar lagi dia akan menemuiku disini. Di taman belakang kampus. Aku tidak sabar dan tidak juga ingin cepat-cepat. Badanku lemas seketika saat mendengar suara langkah mendekat kearahku.
            “Hei, Bay. Ngapain sendirian disini?” Ayu duduk di sampingku dan mengeluarkan ipodnya. “Jangan dipasang dulu, Yu. Aku mau ngomong sesuatu.” Aku memegang tangannya lalu mengambil ipodnya. Dia memasang wajah dengan terheran-heran. “Yu, kamu Ayu Kirana, kan?” aku memulai. “Iya. Kamu kenapa, sih, Bay?” dia melongo menatapku. “Selama ini, hanya satu nama gadis yang selalu kusanjung di dalam otakku. Juga disini.” Aku meletakkan tangannya di dadaku. “Maksud kamu apa, Bay?” dia melepas pegangan tanganku dan menunduk. “Ya, kamulah orang yang selama ini aku suka, selama ini aku tunggu. Kamu yang selalu hadir di tiap malamku. Kamu juga merasakan hal yang sama, bukan?” tanyaku membelai wajahnya. “Tidak. Kamu salah orang, Bay. Gadis yang selama ini kamu sebut bintang, dia adalah Kirana. Gadis pujaan seantero kampus. Kamu salah, Bay.” Aku melihat mata sayu itu mulai berkaca-kaca. “Tidak. Bintang dan Kirana adalah satu orang yang sama. Kirana yang selalu kudamba adalah kamu. Ayu Kirana. Namun, aku tak pernah berani mengatakannya. Tapi hari ini, aku akan mengatakan semuanya.” Senyumku lagi berusaha melihat matanya yang sayu. “Tapi selama ini, kamu sangat dekat dengan Kirana. Sampai kamu mau bergandengan tangan dengannya. Apa maksudnya semua itu?” air mata mulai mengalir di pipinya. “Aku, aku hanya ingin lihat reaksi kamu. Aku hanya ingin tahu itu, Yu. Kamu ngerti kan? Jadi jawaban kamu apa? Kamu punya rasa yang sama, kan?” tanyaku lagi tak tahan melihatnya menangis. Kupasangkan kalung bintang di lehernya yang indah. “Aku ingin selamanya sama kamu, karena bintang adalah Kirana. Kamu.” Aku sekarang sudah bisa melihatnya tersenyum lagi. Dia milikku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar