“Good
morning, Elsa, sapa Mrs. Chaire. “Good morning, Miss, jawabku kalem. “Elsa
harus makan dulu supaya bisa Miss bawa jalan-jalan ke taman dekat sungai yang
ada di tengah kota. Disana indah loh, Sa, kata Mrs. Chaire. Aku hanya bisa
mengulum senyum pendek.
Sudah sebulan ini Mrs. Chaire
menjadi perawatku. Ya, sudah sebulan ini juga aku tinggal di Negara yang jauh
dari rumahku di Bandung. Tepatnya di New York Utara. Atau lebih dikenal dengan
kota Seattle. Kota yang terkenal akan bisnis dan metropolitannya. Andai aku
bisa melihat, akan senang sekali diri ini bisa kemanapun menjelajahi kota
Seattle. Seharusnya aku lebih bisa menghargai niat baik Papaku memindahkanku ke
kota ini. Namun, yang sangat kusesalkan, aku tak pernah berfikir akan tinggal
jauh dari kakak tersayangku. Yah, tak
apalah. Toh, disini aku cuma berobat saja. Bukan untuk tinggal seterusnya.
Namun, aku merasa sangat kesepian. Papa sering berangkat kerja pagi karena
mendapat kerja baru di Seattle. Sepertinya sih, menjadi pengurus keuangan café.
Kalau nggak salah, Papa pernah bilang nama cafenya “Seatsweet Cafe.” Ya, cukup
mudah untuk diingat. Tiba-tiba ponselku
berdering. Aku merogoh saku celana untuk mengambil handphone lalu menekan
tombol answer.
“Halo? Dengan siapa?”
“Hallo. Gue Reva, Sa.” Sapa suara yang
diseberang.
“Reva? Reva yang mana, ya? “Tanya Elsa
lagi.
“Ya ampun. Reva temen SMP elu, Sa. Masa lupa,
sih?”
“Reva? Reva Nawangwulan? Ini beneran Reva?” Tanya Elsa
takjub.
“Iya. Reva temen sebangku elu pas SMP dulu. Sa, Sa. Elu lupa ya
sama temen sendiri. Hahaha” jawabnya nyengir.
“Bukan lupa, Neng. Aku Cuma heran aja. Lah, kamu tiba-tiba
nelfon. By the way, kamu dapet nomor aku dari
siapa?”
“Dari abang Elu lah. Eh, aku sekomplek loh sama abangmu.”
Katanya nyengir.
“Yee.. Ketauan deh boongnya. Wong abangku tinggalnya di
kosan. Kok bisa sampe di komplekmu?” Tanyaku lagi.
“Maksud gue tuh, ya. Di seberang jalan komplek gue. Elu aja
salah ngartiin. Yeeee..
” Balasnya ngasal.
“Hehehe, I see. I’m kidding sist.” Jawab Elsa ngekek. “Btw,
kamu dari dulu kalo ngomong nggak pernah berubah ya?”
“Hey, you forgot? I’m proud to be myself. I don’t wanna
change.” Sahutnya bangga.
“Iyadeh, iya. Eh, kamu sekarang tinggal dimana, sih,
Rev?”
“Pas banget! Gue sekarang lagi di Seattle, Sa!” Teriaknya
di telfon
“Ih nggak lucu banget, deh, Rev -___-“
“Elsa nggak percayaan, ih! Gue mana boong? Sebutin deh
alamat elu. Nanti gue cari. Itung-itung sekalian
jalan-jalan.”
“Ini. Jl. Brooklyn no. 121. Awas yah kalo sampe boong.”
Ancam Elsa bercanda.
“Iya, iya. Besok gue ke rumah lu dah. Kalo gitu udah dulu,
ya. Gue lagi sibuk ngecat kamar. See you.” Telfon ditutup.
“Yee.. Kebiasaan nih si Reva. Orang belum jawab juga, eh,
udah dimatiin duluan. Asem!” Gumam Elsa
meringis.
Mrs. Chaire menepati janjinya untuk mengajakku
jalan-jalan karena 3 hari kedepan aku akan mendekam di Rumah sakit Antonio
Hospital. Ya, cukup bagus! Aku menghabisi hari dengan mata tak dapat melihat.
Ya, sangat menyenangkan -___-
Mrs. Chaire mengajakku berbelanja di pusat kota.
Aku menikmati sejuknya semilir angin disini. Cukup teduh rasanya. Mungkin ini
sedang musim gugur. Aku tak perduli. Selama aku masih bisa menikmati hari, aku
sangat bersyukur.
“Elsa, do you want to eat? I know the best
restaurant here. You will enjoy the food. The food is really yummy.” Kata Mrs.
Chaire. “Yeah, honestly, I really hungry. Yes, we can eat at there. Jawabku
bersemangat (semangat 45 kali ya?). “Okay, Let’s go!!! Kata Mrs. Chaire
lagi. Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang bertubuh besar. Sepertinya itu
yang aku lihat sewaktu di perpustakaan SMP ku dulu. Bulu kudukku berdiri. Aku
merinding. Aku merasakan hawa supranatural di sekitarku. Jantungku rasanya mau
copot. Aku takut setengah mati. Aku bahkan tak berkutik samasekali. Kakiku
menegang kemudian sampai ke perutku. Rasanya ingin muntah tapi tertahan. Aku
menemukan tenagaku dan menutup wajahku dengan kedua tangan. “Hey, what’s wrong
with you? Kenapa tiba-tiba wajahmu kamu tutup seperti itu?” Tanya Mrs. Chaire
mengejutkanku. “Nothing.” Jawabku pendek lalu membuka kembali tanganku. Tidak
ada apa-apa disana. Aku mendesah lega. Aku mau pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar